Sabtu, 06 September 2014

Untitled 2

Aku berdiri lemah di hadapan sebuah gedung. Gedung putih dengan cat mengelupas itu – adalah tempat yang kutinggali selama beberapa bulan – sudah hancur porak poranda. Besi-besi mencuat ke luar, ke atas, dan ke bawah,  rusak berantakan. Dinding yang bolong memperlihatkan isi ruangan yang sama bobroknya, seperti bangunan yang tidak pernah selesai dibangun.

Teriakan histeris menggema di sekelilingku membuat kakiku lemas. Tanganku gemetaran. Kepalaku berdenyut nyeri. Ingin rasanya aku menjedotkannya ke tembok, kemudian terbangun dalam keadaan yang aman dan gedung yang utuh.

Orang-orang sibuk membawa tandu kosong memasuki sebuah gedung, dan ke luar tergesa-gesa menandu tubuh luka berlumuran darah dan debu. Tempat ini tidak berbentuk. Tempat ini penuh debu serpihan bangunan yang terkena bom. Dan anakku ada di dalam sana.

“Karim,” hatiku lirih memanggil namanya. Meski rasanya berat seperti diikat rantai dan batu besi. Kakiku masih terus melangkah, menginjak batuan besar yang berserakan di tanah berdebu. Puing-puing berserakan menyulitkan langkahku.

“Dokter! Kau harus pergi! Mereka sedang menuju ke sini!”

Kudengar sayup Hamid memanggil-manggil namaku di kejauhan. Aku bergeming dan terus melangkah memasuki gedung seraya mengingat-ingat di mana letak  kamarku dalam keadaan gedung yang hancur seperti ini. Sebab terakhir aku meninggalkan Karim, ia tengah tertidur pulas dengan wajah imut berbingkai rambut keriting yang menggemaskan.

Kakiku berteriak pegal. Hatiku berdenyut ngilu. Rasa takut dan khawatir merebakkan airmata di pipiku. Adrenalin melemahkan gerakanku. Mempercepat detak jantungku. Keringat dingin membasahi baju hijau medis yang kukenakan. Tubuhku bergetar dan hampir limbung. Aku takut kehilangan Karim.

Pikiranku kosong. Aku berdiri di tengah gedung berdinding bolong. Harum kematian mencekamkan suasana. Pupil mataku melebar. Pandanganku menyapu sekeliling. Hanya ada hamparan batu yang pecah karena bom. Tapi ini tidak menyusutkan keinginanku tuntuk menemukan Karim dalam keadaan … hidup! Langkah kakiku masih kokoh meski getarannya semakin keras. Kukepal tanganku sekuatnya hingga buku jariku menusuk telapak tangan.

Dalam keadaan kalut, tiba-tiba pikiranku bermain deras tanpa toleransi menuju memori ketika Karim terkubur di bawah reruntuhan debu dan batu. Dan ketika terbangun dari memori itu, lima langkah di hadapanku, aku menemukan apa yang ingin kutemukan.

Karim.

Anakku tertindih batu besar, sekujur tubuh mungilnya tak bisa kulihat hanya kepalanya yang terjuntai lemah. Di bawah kepalanya ada bongkahan batu besar dan batu kecil di samping kepalanya, menyentuh pelipis kirinya.

Sedetik kemudian aku berlari menghampirinya dalam kesunyian. Tidak ada histeris. Aku masih berharap keajaiban kembali menaungi Karim, My son. Yeah, God you should give him miracle.

“Karim.” Kupanggil namanya sehalus mungkin agar ia tidak ketakutan ketika terbangun nanti. Pelan-pelan kusingkirkan bebatuan itu tanpa sekali pun melepaskan tatapan mataku pada wajah imutnya. Mata Karim terpejam. Bulu matanya yang lentik membuatku merasakan rindu dan ingin segera memeluknya. Namun aku tidak kuat, aku terlalu gemetaran untuk membebaskan Karim dari batu itu.

“Karim,” panggilku. Suaraku lebih terdengar parau dan lirih. “Bangun, Nak,” kataku lagi seraya mengelus rambut keritingnya. Ketika tanganku menyentuh tempurung kepalanya, rasanya ada cairan kental menyesap ke jemariku. Kuangkat tanganku, merah darah kental menutupi telapak tanganku. Bau anyir membuat napasku sesak.

“Tuhan, Kau benar-benar harus memberikan keajaiban kedua padanya!” ucapku frustrasi sambil menatap wajah Karim yang semakin memutih. “Kau harus, Tuhan!” teriakanku meledakkan kesunyian. Tangisanku pecah dengan sekejap. Rintihan dan isakan bagai suara guntur yang membelah langit.

“Bangun! Bangun, Nak! Jangan terlalu lama terlelap. Buka matamu! Umi ingin melihat bola matamu yang cokelat. Bangun dan tertawalah. Katakan Kau baik-baik saja, Karim.”

Kekalutan memberikan kekuatan bagiku. Sejenak batu yang menutupi tubuh Karim berhasil kulempar menjauh. Kini Karim berada di pangkuanku, masih dengan mata tertutup, wajah membiru, kepala yang bersimpah darah membasahi wajahnya ketika kupeluk tubuh lemahnya.

“KARIM!” aku berteriak sekuat tenaga, melepaskan rasa pedih kehilangan. Bayi mungilku telah pergi direnggut kebiadaban pimpinan Israel. Bom melenyapkan senyum dan tawa canda Karim. “You asshole Netanyahu! You are a murderer! You are a monster!” pekikku penuh amarah.

Lalu kupandangi kembali wajah Karim. Masih terdiam. Air wajahnya tenang, bibir penuh proporsional itu seperti mengulum senyum, hidung kecilnya kini tak dapat menghirup udara lagi. Anakku mati! Karim sudah mati. “You take my child from my arm!

“Don`t move! Put your hands up.” suara berat pria menyela tangisan pedihku.

Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Berdiri seorang tentara gagah dengan menodongkan senapan panjang ke arahku. Kulihat badge di seragam tentaranya yang berwarna hijau buluk, loreng cokelat redup. Seragam angkatan darat Amerika. Dan memang ada bendera Amerika di lengan tangannya. Ia menggunakan topi dan kacamata hitam. Rompi anti peluru melindungi dadanya.

Meskipun senapan panjang itu mengarah kepadaku, aku tidak takut menatapnya penuh kebencian dan amarah. Jika saja aku punya senjata, langsung kutarik pelatuknya dan kutembakkan ke kepalanya berkali-kali sampai pecah seperti serpihan batu ini.

“Is he your boy?” dia bertanya dalam kewaspadaan. Memang ada sedikit simpati dari matanya saat menatap Karim. But, he didn`t really care!

“Dan kau membunuhnya! Katakan pada pemimpinmu untuk berani memimpin langsung pasukanmu, bukan bersembunyi di balik Iron Dom! Bedebah!”

“Hei. Jaga mulutmu, cantik.” Dia tersenyum nakal membuatku semakin tajam menatapnya. “Tidakkah kau tertarik ikut denganku untuk …” katanya sambil menurunkan senapannya, ia lebih releks setelah mendengarku bersuara. “Yeah, bersenang-senang di tempat tidur. Kau tahu, pria selalu butuh wanita meski sedang perang. Aku kurang tertarik dengan wanita Israel, dan sepertinya kau …” dia meringis kesakitan karena sepatu kats-ku berhasil mengenai tulang keringnya. “What the …” ujarnya sambil mendorong senapannya dengan keras mengenai pelipisku.

Pening. Bau anyir darah menyeruak. Langsung kuusap darah yang mengalir mengenai alis mataku dengan tangan. Karim masih aman dalam pelukanku. Tentara itu bersiap kembali melancarkan serangan dengan senapan, berniat memukulku lagi.

“Stop!” tapi sebuah suara menghentikannya. Tentara Amerika Berpikiran Kotor itu langsung berdiri tegak dan mengangkat tangannya. Ia melakukan gerakan hormat khas militer pada pemilik suara itu. “Get out! She`s mine.”

“Yes, Sir!” ujarnya tegas dan lantang. Lalu ia berlari meninggalkan kami.

Aku dan pria itu saling bertukar pandang. Ia berjalan menghampiriku penuh wibawa dan kharisma. Pakaiannya sama seperti si Tentara Amerika Berpikiran Kotor, namun tanpa kacamata dan topi. Titik-titik rambut tipis berwarna pirang kecokelatan menutupi dagu dan pipinya. Rambut cokelatnya sempurna dengan rahang persegi yang terlihat kokoh. Hidungnya jelas mancung tinggi. Ada lekukan di tengah dagu lancipnya. Ketika ia mendekat dan berjongkok di hadapanku, aku bisa melihat matanya birunya yang berkilauan. Pria tampan ini pembunuh.

“Stay away from me!” pekikku.

“Just calm down, ok? I don`t wanna hurt you.”

“Are you his leader? Are you a murderer? Go to hell!”

“Don`t talking loud to me.” Dia menatap lekat mataku, mata birunya memancarkan ketenangan. Ia tidak mengancam seperti anak buahnya hingga aku tidak setegang tadi. Aku melunak dan membuang wajah lalu menatap Karim. “I`m so sorry for your son. I didn`t mean to …”

“Shut up!” pekikku, kembali merasakan kepedihan. “Kau telah membunuhnya. Karim-ku bayi yang menggemaskan. Aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri.” Kuucapkan curahan hatiku padanya, pada pria tampan yang sejak lama menjadi musuh Gaza. Ketenangannyalah yang membuatku merasa ingin direngkuh dalam pelukan pria itu dan menangis sedu sampai tertidur. Aku lelah. Aku kehilangan.

“Aku tahu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memohon maaf padamu, dan … Karim, rest in peace sweet heart. God bless you.

Aku memperhatikan wajahnya saat mengucapkan kalimat bela sungkawa pada Karim. Wajahnya menunjukkan keseriusan, bukan ejekan. Matanya mengisyaratkan kepedihan, bukan kesenangan.

Tangan besar pria itu mengelus kepala Karim, sama sepertiku telapaknya merah dengan darah. Ia meringis. “Inilah yang membuatku tidak pernah ingin berada dalam pertempuran.”

Kalimatnya memperjelas sesuatu dan jika aku dalam keadaan normal, aku pasti menanyakan maksudnya. Tapi tubuhku terlalu lemah, aku hanya bisa kembali menatap wajah Karim dan menyebutkan namanya dengan lembut dan lirih. Lalu tidak menyadari apa-apa lagi. Damai. Tenang. Aku pingsan.


To be continue …

Jumat, 22 Agustus 2014

Untitled

Suara dahsyat ledakan bom. Asap hitam mengepul di udara. Reruntuhan bangunan yang porak poranda. Dan tubuh berserakan di tanah tanpa ada harganya. Situasi ini sudah menjadi bagian yang lekat dalam ingatanku. Bagi sebagian orang itu jelas menyiksa batin, tapi tidak untukku.

Untitled

Pagi itu, aku meninggalkan Indonesia dengan membawa keyakinan bahwa misiku adalah membantu mereka yang sedang sekarat. Aku sudah berusaha memberikan penjelasan kepada kedua orang tuaku. Awalnya mereka menolak keras, namun panggilan hati tidak bisa dipatahkan begitu saja. Sebagai seorang dokter, aku ingin bermanfaat. Meski mereka melepasku dengan airmata yang mengucur, aku yakin kedua orang tuaku memberikan restu.

Setibanya di negara itu, aku sama sekali tidak mengecap manisnya kehidupan seperti di Jakarta. Keadaan berbeda seratus delapan puluh derajat. Di sini hanya ada kekalutan, duka, kepedihan dan kematian. Mirip seperti kota mati yang ditinggal pergi penduduk.

Puing-puing bangunan berserakan di sepanjang jalan, debu menganggu pernapasan, terik matahari terus menghantam wilayah ini. Meski suasana mencekam, aku bisa merasakan semangat perjuangan yang luar biasa. Masyarakat di sini yakin, jika mereka tidak bertahan siapa lagi yang akan menjaga peninggalan bersejarah Islam, Mesjid Al-Aqsa, Gaza, Palestine.

“Dokter Marsha.” Perawat pria memanggilku, aku menoleh sejenak lalu kembali sibuk menjahit tangan seorang remaja yang terluka. “seorang balita sekarat. Kepalanya bocor. Darah terus mengalir. Dia kejang-kejang.”

“Beri dia bantuan pernapasan, pasang kanula. Bersihkan darahnya, dalam dua menit akan kutangani.” jawabku tanpa menoleh dan mengerjakan pekerjaanku dengan cepat di ruang IGD – instalasi gawat darurat. Ruangan ini penuh sesak dengan korban bom, ada sebagian pasien diletakkan di koridor setelah ditangani. Memang kondisinya sangat gawat darurat. Tenaga dan peralatan medis masih kurang. Perlengkapan minim. Beberapa jenazah ditempatkan di lemari ice cream. Andai saja negara-negara tetangga bersedia membantu. Bahkan Mesir pun menutup pintu perbatasan.

Untitled

Sejak Israel menyerang, sudah ribuan nyawa melayang. Suasana mencekam membuatku merasa tidak aman tidur di mana pun, seperti ditikam rasa takut, dikurung kesedihan, dan ingin segera pulang ke rumahku yang nyaman lalu tidur dengan nyenyak sambil mendengarkan instrumen Kenny G. Tapi melihat senyum dan canda si imut Karim, aku ingin bersamanya lebih lama.

Usiaku hampir menginjak kepala tiga – berstatus single – memutuskan untuk mengadopsi Karim – bocah berusia 7 bulan – dan membawanya ke Indonesia. Selain imut dan tawa renyahnya membuat lapar – lapar ingin menciumi pipi tembam sembari memeluknya dengan erat – Karim adalah seorang anak yang diberikan mukjizat oleh Tuhan.


Debu reruntuhan bangunan mengepul, jarak pandang dekat. Ketika itu aku berdiri bersama para relawan kesehatan lainnya sembari memandangi pria-pria yang sedang berusaha mencari jasad di dalam reruntuhan rumah tidak jauh dari rumah sakit tempatku bertugas. Sehari pasca bom, mereka terus mencari jasad.


"Aku rasa di sini posisi kamar dari rumah yang runtuh ini!” seru seorang pria berjenggot dan berkumis tipis, tubuhnya tidak besar tapi jelas kuat karena otot menyembul di lengan bisepnya.

Menit demi menit berlalu, beberapa bongkahan batu bata putih besar berhasil diangkat dan dilempar ke luar daerah galian. Beberapa pria dewasa semangat menggali dengan tangan kosong, sebab ia khawatir sekopnya akan mengenai seseorang – meski mustahil – yang masih hidup.

Allahu Akbar!” teriak mereka bersemangat, takbir berkumandang dengan nyaring, memecahkan suasana mencekam menjadi haru. Para pria itu mengucapkan ucapan syukur dalam bahasa ibu. Jantungku rasanya nyeri, apa gerangan yang mereka temukan di dalam reruntuhan itu?

Aku dan kawanku saling bertatapan, lalu kami melangkah mendekat, menjulurkan kepala ke celah berbentuk persegi panjang di bawah sana. Aku tidak melihat apapun selain butiran halus reruntuhan bangunan. Namun, mereka terus menggali dan tak henti-hentinya bertakbir. Lalu sesuatu yang indah muncul membuat tubuhku merinding sekaligus terharu.

Aku terkesiap, sebelah lengan mungil timbul di antara reruntuhan debu halus. Itu pasti tangan seorang bayi. Hanya sebelah tangan yang berlengan panjang warna orange ceria tanpa tubuh. Hatiku teriris, pelupuk mata dipenuhi air. Kesadaran membuat tubuhku bergetar, ada seorang bayi kecil di bawah runtuhan batu yang berat dan serpihan material batu yang hancur. Pasti ia sulit bernapas! Pasti tubuhnya luka-luka! Pasti dia sudah mati! Oh, kasihan sekali bayi itu.

“Ya ampun! Aku tidak tega melihat ini.” Temanku histeris sambil membuang wajah menatap ke arah lain. “Tega sekali mereka. Apa salah bayi itu?” tanya kawanku, seorang wanita asal Mesir yang juga menjadi relawan sementara aku mengatupkan mulut rapat-rapat, tidak bisa berkata apapun.

Pria-pria itu terus mengucapkan kalimat puji-pujian tanpa lelah menggali reruntuhan dengan tangan. Kemudian, kepala mungil si bayi terlihat, rambutnya penuh dengan butiran halus reruntuhan. Tangan seorang pria memegangi tengkorak kepala si bayi dengan lembut, lalu ia menarik perlahan agar bayi itu terbebas dari reruntuhan halus.

              
           
Ya Tuhan bayi yang lucu! pekikku dalam hati, pedih.


Mereka terus menggali seakan menemukan harapan. Hatiku semakin ngilu melihat bayi gendut itu terduduk dengan kaki yang masih tertimbun reruntuhan. Rambutnya keriting, wajah bulat sehat, pipi tembamnya memerah. Ya Tuhan, dia benar-benar lucu. Namun, matanya terpejam rapat. Dia sudah mati.



Saat seorang pria menggerakkan tubuh si bayi ke lain sisi, tiba-tiba matanya terbuka, bibirnya membentuk bulan sabit terbalik, dan pandangan matanya berkeliaran persis seperti bayi yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, lalu tangan mungil yang gempal itu bergerak menuju matanya sendiri. Dia mengucak-ucak matanya dengan bibir yang masih memberengut. Menggemaskan sekali, airmataku menetes deras. Bayi laki-laki itu masih hidup, dia masih bisa bernapas di bawah reruntuhan bangunan. Ya Tuhan, ini keajaiban.


Seorang pria menciumi kepala dan wajah bayi itu ketika pria lain masih berusaha membebaskan pinggang – sampai ke bawah – dari reruntuhan, lalu ia mengusap-usap perut si bayi.
Kedua tangan gempal si bayi mengucak-ucak matanya, ia tidak menangis, tapi wajahnya hampir mewek, polos sekali. Ia terus begitu di tengah-tengah para pria berisik. Seakan tidak menyadari maut hampir membawanya pergi.

Aku ingin turun ke sana, menggendongnya lalu kupeluk ia dengan erat, kuciumi pipi merahnya yang tembam, kugenggam tangannya yang bulat, dan kuelus kepalanya penuh kasih sayang. Dia hebat, dia bisa bertahan. Semua orang menangis sedih, terharu sekaligus bahagia, termasuk aku yang terisak melihat sosok bayi gembul itu.



♥♥♥♥♥♥
“Dokter Marsha, apakah Anda akan pergi ke perbatasan Mesir sekarang?” tanya seorang pria yang kukenal bernama Hamid, ia berusia kira-kira 35 tahun. Petugas apotek di rumah sakit tempatku bertugas.

“Ohya, aku pasti ke sana, tunggu aku di depan, ya,” jawabku halus, lalu aku memandangi wajah anak angkatku Karim yang berada dalam dekapanku.

Sejak pertemuan antara aku dan Karim, aku tidak bisa melepaskannya dari pikiranku. Setiap sebelum dan bangun tidur aku selalu mengecup pipi tembamnya, mengelus rambut ikalnya dan memeluknya penuh kasih sayang. Aku berjanji akan membuatnya bahagia semampuku! Menjadikannya anak yang sukses kelak.

Setelah berjuang, akhirnya aku mendapatkan hak asuh yang sah – meski yah kau tahu sendiri, aku belum menemukan calon ayahnya. Karim adalah yatim piatu, keluarganya meninggal di hari ketika rumahnya runtuh rata dengan tanah. Lebih baik kubawa ia ke Indonesia, setelah keadaan Karim cukup kuat untuk terbang melintasi udara.

“Uu… Umi,” celoteh Karim, bibirnya bergerak imut. Tangannya menggapai-gapai wajahku dengan gesit. Matanya yang bulat berbingkai kelopak berbulu lentik. Ia bagai malaikat tampan yang Tuhan kirimkan untukku.

Habibi, sa azdhab syuwayya asytarii labanan lak, kun hadii an ya habibi,” kataku sambil tersenyum menatapnya. Karim membalas kalimatku dengan sepatah kata dan suara cemprengnya. Ia menatapku seakan ia mengerti apa yang kukatakan. Sorot matanya yang berkerlipan indah, mata tanpa dosa. “Uhibbak katsiiron.[1]

[1] Sayang, ibu mau beli susu dulu ya buat kamu. Kamu jangan nakal. Umi sayang sama Karim.

♥♥♥♥♥♥

Perdana Menteri Israel dan Hamas sepakat melakukan gencatan senjata selama 5 jam. Serius, hanya 5 jam. Ya, awalnya aku mengeluh. Yang benar saja hanya 5 jam, sewaktu di Jakarta 5 jam kuhabiskan dengan tidur-tiduran di kamar tanpa arti selepas kerja. Tapi sekarang, setiap detik berharga.

Hari ini pasienku tidak sebanyak biasanya. Kerjaku lebih santai. Biasanya aku tidak henti memeriksa detak jantung korban ledakan bom, melihat wajah baby yang penuh dengan luka bekas serpihan ledakan, bahkan aku pernah sekali menyaksikan seorang bayi dipeluk penuh kasih sayang oleh ibunya. Bayi itu meninggal dengan debu kelabu menutupi sekujur tubuhnya. Awalnya aku sering ke kamar mandi untuk menenangkan diri melihat banyak mayat berdarah di sekelilingku. Sekarang aku sudah terbiasa.

Pintu perbatasan Gaza dan Mesir dibuka selama gencatan senjata, waktu yang singkat itu kugunakan untuk membeli perlengkapan dan obat-obatan yang stoknya menipis, lalu keperluanku sendiri, juga keperluan Karim. Karimku tersayang butuh banyak pampers, pakaian hangat, dan susu tentu saja.

Mobil melaju di tengah Kota. Suasana nampak normal. Banyak orang berjalan di pinggir jalan raya seraya membawa kantong plastik berisi keperluan sehari-hari. Meski nampak normal, air wajah mereka jelas menderita dan ketakutan. Aku berdoa agar keadaan ini benar-benar berakhir.

Setelah semua keperluan sudah kami beli, kantong belanjaan dimasukkan ke bagasi mobil. Aku duduk dengan lelah bersandar pasrah pada kursi penumpang.

Di perjalanan menuju pengungsian aku mendengar suara ledakan yang menakutkan. Satu ledakan namun suaranya membelah ketenangan yang imitatif. Jantungku langsung berdentum tak beraturan. Karim!

“Kau dengar itu, Hamid?” tanyaku, panik. Posisi dudukku langsung tegak dan tegang. Tanganku memegang dasbor mobil, mataku membelalak lebar menatap Hamid yang tengah menyetir.

“Ya, dokter.” Wajahnya terlihat keras. “Apa yang mereka lakukan? Padahal sedang gencatan senjata.”

Kekhawatiran mencekram hati dan pikiranku, Karim berada jauh dari jangkauanku. “Cepat hubungi seseorang, tanyakan keadaan Karim.”

Aku memandangi Hamid yang tengah menelpon. Menunggunya menyampaikan informasi seperti menunggu keputusan hakim, apakah aku bebas hukuman ataukan dihukum pancung. Tapi ia hanya menggeleng yang justru menambah panjang kekalutanku.

“Tenang, Dokter. Karim pasti baik-baik saja.” Hamid berusaha menenangkanku, tapi tidak sepenuhnya berhasil. Aku semakin kalut dan takut. Khawatir.

“Cepat! Injak gas mobilmu dengan kencang! Aku tidak ingin Karim terluka sesenti pun.”

♥♥♥♥♥♥

Matahari terik yang mengantarku dari perbatasan Mesir menuju tempat tinggalku tertutup awan kelabu, cuaca berubah drastis. Mendung membungkus kota Gaza yang entah kenapa berhasil membuat hatiku perih dan sakit.

Mobil sedan yang kutumpangi melintas di atas jalan beraspal menuju pengungsian. Beberapa jam lalu, suasana di sini masih cukup kondusif. Tapi sekarang bising, ramai, dan amburadul.

Para orang tua menggendong anak-anak mereka dengan ekspresi wajah ketakutan yang kental. Ada yang menangis. Ada yang berteriak. Ada yang bicara dalam kepasrahan. Mereka berjalan setengah berlari menjauhi wilayah ini menuju satu titik yang kutahu sebagai tempat pengungsian lainnya.

Bahkan seorang remaja laki-laki kurus dengan susah payah dan terengah membopong adik perempuannya yang masih kecil. Ada luka di bagian pelipis dan kakinya mengalir darah merah. Gadis kecil itu menangis, teriak kesakitan. Kakaknya terus berlari tanpa alas kaki, sedangkan aspal penuh dengan kerikil tajam.

“Injak gas mobilnya lebih dalam, Hamid!” pekikku, rasa panik membuatku semakin kalut.

Sesampainya di pengungsian aku keluar dengan segera, berdiri di depan gedung pengungsian. Jantungku serasa berhenti. Bangunan yang berdiri kokoh itu kini telah hancur. Tembok-tembok yang tinggi, sekarang pecah berkeping-keping. Hatiku terus memanggil nama Karim dengan lirih.

“Sembunyi!” suara seorang pria tegas menggema di telingaku, namun kakiku terlalu lemas untuk bergerak. “Angkatan darat mereka sedang menuju ke sini.”

“Dokter, ayo pergi dari sini!” Hamid mencekram lengan sikuku.

Aku bergeming. Mataku pedih. Hatiku hancur.

“Dokter. Kau bisa ditangkap. Mereka sedang operasi dan akan menangkapmu.”

“Aku tidak takut. Itu lebih bagus, karena aku punya kesempatan untuk membunuh Netanyahu dengan tanganku sendiri!”

“Dokter.” Hamid berteriak.

“Tidak! Aku harus menemukan Karim!” jawabku seraya menyentakkan cengkraman tangan Hamid, lalu aku berlari menuju runtuhan pengungsian.















===================================================================
NB: Gambar-gambar yang kubagi di atas itu real. Terjadinya sih di Syria, boleh lihat di web ini http://www.youtube.com/watch?v=KRgO2GS5rGE

Sabtu, 09 Agustus 2014

Pemburu Cinta

Perkenalannya indah, tapi nggak kusangka bisa berakhir tragis seperti ini. Terkadang aku berpikir, lebih baik nggak pernah berkenalan dengannya kalau hanya mewariskan luka dan duka.

Latihan Dasar Kepemimpinan Kelas X SMA, Bogor, 2014.
Di tengah lapangan bertanah merah, kami membentuk kelompok outbond. Aku selalu bersemangat dengan kegiatan alam yang satu ini. Memang lelah, tapi ini memuaskan. Banyak ekspresi yang kulihat dari setiap aktifitas outbond. Ekspresi bete, senang, semangat, bahkan ekspresi berkilauan yang mampu membuat mataku terkunci hanya pada sosoknya.

Seakan seluruh perhatianku tertuju padanya. Dia tersenyum lebar, dan sangat menikmati waktu. Padahal, tubuhnya diinjak oleh seorang cowok yang sedang berusaha memasukkan rotan berbentuk lingkaran pada sebuah gala kayu panjang. Dalam posisi berdiri kuda-kuda dan keringat yang bercucuran jantan, aku bisa melihat senyum yang sangat manis. Senyuman yang membuat bibirku ikut mengulum. Saat itu aku sadar, aku telah jatuh cinta padanya.

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku melihatnya. Pagi tadi, saat kami berlari menuruni tepi jalan raya Kota Bogor yang sepi, gelap, dan dingin, dalam kondisi mata yang berat dibuka alias masih ngantuk. Semalam kami peserta LDKS dibangunkan pukul 02.00 secara paksa, lalu disuruh berdiri dengan kaki telanjang di tengah halaman villa yang dingin mengigil. Dan sekarang masih harus olahraga. Ya Ampun! Aku mau tempat tidur! Homesick! Sudah dua hari jauh dari kamar.

“Siapa yang mau jadi ketua OSIS?” tanya seorang senior dengan suara tegas dan lantang, sementara aku menatap ke arah suara itu, tapi nggak bisa melihat wajahnya karena matahari belum muncul. “Kalau kalian mau jadi ketua OSIS, ayo loncat ke bawah.”

Di hadapan kami, samar-samar aku bisa melihat sungai berbatu besar dengan air yang cukup deras. Suaranya terdengar sangat damai dan memberikan ketentraman. Tanganku memegang batang besi berwarna kuning yang dingin seraya melongok ke bawah. Gelap.

“Yang bener aja, mendingan gue nggak jadi ketua OSIS daripada harus loncat ke sana.” Kudengar suara seorang cowok yang berdiri nggak jauh dariku. 

Aku meliriknya, dia berdiri tegak dengan postur yang atletis. Tinggiku sejajar dengan dagunya. Masih dalam kondisi gelap, aku nggak bisa melihat wajahnya.

“Iya, Kak. Bener.” Aku merespon sekenanya.

Nah! Itulah suara yang kudengar sama persis seperti suara cowok yang sedang bersemangat outbond. Dia kelas XI IPS. Aku nggak tahu namanya, tapi wajahnya terekam jelas di benakku. Hidungnya terutama. Tulangnya tinggi dan lurus seperti perosotan anak-anak TK.

Saat penutupan, ketua OSIS mengumumkan peserta LDKS terbaik dari kelas X dan XI. Aku menjadi terbaik pertama, dan dia – yang kusukai senyumannya saat outbond – juga terbaik pertama. Ternyata, namanya Kak Revan.

Dengan polosnya, kukirimi dia secarik kertas bertuliskan ‘selamat ya, Kak. Semoga menjadi ketua OSIS.’ Well, dia membalasnya. Dan sejak itu, dia mengenalku. Setidaknya dia tahu, kalau aku ini ada.

Pemburu Cinta

Aku malu, ternyata dia bukan perwakilan ekskul yang menjadi cikal bakal pengurus OSIS. Tapi, dia perwakilan kelas dan terpilih menjadi Ketua Majelis Perwakilan Kelas. Jabatan ini bisa membuat seseorang famous di kalangan siswa dan guru.

Bagiku, dia sosok yang berkharisma. Punya senyum menawan, kemampuan berinteraksi yang baik dan agak senang becanda. Dari mana aku tahu? Ehem, sebenarnya aku mengamatinya. Diam-diam meliriknya – dari kelasku di lantai 2 – yang sedang berdiri di balik balkon lantai 3, tepat di depan kelasnya.

“Lo mau gue bantuin supaya deket sama dia?” suatu ketika temanku – Ifha – menawarkan hal yang nggak pernah kusangka. Aku menatapinya bingung. “Tapi, lo harus bantuin gue deket sama Kak Daniel.”

Itu pertanyaan yang absurb menurutku. Aku nggak berani mendekati cowok, masa dia meminta bantuanku. But, ok, aku mengiyakan meskipun nggak tahu harus mulai dari mana. Asal bisa dekat dengannya!

Ifha lebih cekatan, dia memulainya lebih dulu. Setiap istirahat dia berdiri di balik balkon lantai 3 berdampingan dengan Kak Revan. Aku memandangi kedekatan mereka, sangat dekat, bahkan mereka bersenda gurau, akrab sekali, dan selang beberapa hari aku mendengar mereka jadian. Sialan!!!

Ambil deh tuh, buat lo biar puas. Gue nggak peduli! gumamku sambil masuk ke dalam kelas, dan ikhlas melupakan perasaanku pada Kak Revan.

Pemburu Cinta

Latihan Penyerahan Jabatan, Kelas XI, 2015.
Aku terpilih menjadi Sekretaris Umum OSIS angkatan XXIII. Hari ini, kami latihan penyerahan jabatan di tengah lapangan. Ada Kak Revan dan Ifha. Kudengar mereka sudah selesai alias putus, tapi aku benar-benar nggak peduli karena aku tengah menjalin hubungan dengan Farel, kawan sekelasku di kelas X.

Setelah latihan kami makan bersama, nasi bungkus yang lezat sekali. Karena pedasnya membuat keringat mengucur deras. Kuperhatikan Kak Revan, keringatnya banjir dan mulutnya bergerak kepedasan. Kasihan aku melihatnya, jadi kuhampiri dia lalu kuberikan sebungkus permen fox.

“Nih, buat Kakak. Supaya nggak kepedasan,” ujarku seraya menyerahkan permen itu.

Dia menatapku, takjub dan lekat. Lalu ia tersenyum sambil menerima pemberikanku. “Makasih ya, Dini.”

Pemburu Cinta

Januari, 2016, kelas XI.
Aku putus dari Farel, tanggal 25. Karena dia selingkuh. Huh! Menyedihkan. Memang sih salahku karena aku mengabaikannya. Aku lebih sering ekskul, kegiatan OSIS, dan belajar ketimbang harus bersamanya. Tapi aku kesal, kenapa harus selingkuh? Nggak ada cara lain?

Aku ingin membuatnya kesal dengan meminta bantuan Kak Revan yang kebetulan sedang menjomblo. Kukirimi dia sms – setelah beberapa kali berhubungan cukup intens lewat sms.

Kak, mau bantuin aku nggak? Bantuin aku, Kakak pura-pura jadi pacar aku. Aku kepengin manas-manasin Farel. Supaya dia kesel.

Kak Revan membalas,
Kenapa pura-pura? Beneran aja!

Awalnya aku bingung. Tapi berhubung aku pernah suka padanya akhirnya kami jadian, dan berlangsung hampir 6 tahun. Aku sangat mencintainya, hingga menjadikannya harapan dan impian hidupku. Rasanya hubungan kami indah, sampai kami menemui masalah ini.

Pemburu Cinta

November, 2021, kuliah semester 7.
Segala sesuatu yang berlebihan, itu nggak baik. Benar sekali! Itu yang kualami. Terlalu mencintai Revan. Jadi, ketika dia melakukan pengkhianatan, luka dan duka yang kudapat berlipat-lipat pedihnya.

Revan seorang cowok yang mudah dekat dengan orang lain – termasuk cewek. Selama kami pacaran, dia banyak sekali bertemu dengan teman cewek baru. Aku cukup sabar menghadapinya, hingga pada suatu ketika aku menemukan bukti yang membuat hubungan kami harus berakhir di tengah harapan-harapan indahku.


Pesan gambar yang kutahu dari salah satu cewek yang sudah satu tahun ini kucurigai mempunyai kedekatan dengan kekasihku. Kubuka pesan gambar, menampilkan benda yang nggak jelas bentuknya. Ada dua kalimat di bawahnya, ‘Mas, aku sudah telat. Ini hasil testpack-ku.’