Kamis, 27 Agustus 2015

Finding You Among The Stars

Finding You Among The Stars
(potongan draft)
By: Eka Annisa


“Dari sekian banyak jalan yang terbentang di hadapanku, semua mengarah kembali padamu. Meski kau berada di sisi lain saat langit terbelah, dan jarak kita terpisah sangat jauh. Aku pasti akan melihatmu di antara bintang-bintang.”


Prolog

“Hai, Re. Aku kangen banget sama kamu.” Kupandangi cakrawala hitam gelap, sambil merasakan lembabnya rerumputan halus di sela-sela jemariku. Sentuhan lembut rumput itu seolah mengelus punggungku, menenangkan otot-ototku yang tegang. Aku merasa ketenangan jiwa dan raga, serasa Reoku tengah berbaring di sampingku, menatapku menggunakan matanya yang selalu sendu, dan selalu memperlihatkan senyumnya yang semanis madu.

Kata pacarku Reo, agak susah melihat bintang di kota, karena cahaya lampu terlalu terang mengalahkan sinar kecil bintang-bintang itu. Tapi sekarang malam cerah, lumayan banyak kerlip bintang dapat kulihat di atas langit pekat yang nampak tak berujung luasnya.

Seperti inilah kegiatanku kala kerinduan menyesakkan dada dan sama sekali tak ada obatnya. Kucari bintang paling bersinar, berusaha menemukan permata berpilar yang kuyakini sebagai bintang regulus. Ya, regulusku yang sudah 1500 hari meledak, menghilang, melebur menjadi satu dengan semesta. Tak kasatmata.

Reo pecinta regulus. Einstain-nya Nadhira. Kekasih yang takkan pernah selangkah pun beranjak dari hatiku.

Sebelum meninggal, sepertinya dia sudah tahu, sebentar lagi kematian akan datang menjemput. Malam itu terasa menyiksa bagiku, kekhawatiran menekan jantung. Aku takut kehilangannya setengah mati.

Ulang tahunku yang ke tujuh belas adalah ulang tahun yang tak terlupakan. Dia menjamuku dengan candle light dinner di balkon apartemennya. Hari ulang tahun yang pertama sekaligus terakhir yang kulalui bersama Reo.
*****
“Jadi, kamu mau minta apa? Make a wish coba,” pinta Reo lembut sambil menggenggam jemariku.

“Rahasia dong,” sahutku seraya tersenyum. Reo hanya mengangguk protes, sementara aku tertawa kecil. “Hehe… ya, Wishes biasa, Re. Panjang umur, sehat, sukses. Ditambah satu wish khusus. Di tahun ini kan ada kamu, aku pengen tahun-tahun berikutnya juga ada kamu.”

“Kalau nggak ada gimana?”

“Ada dong,” jawabku agak getir. “Omongan kan doa, Re. Jadi aku harus yakin, ada kamu di masa depan aku.”

“Nad, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Gimana pun keadaannya, kita harus siap menghadapi.” Reo berujar penuh kesungguhan, matanya menyala, seakan menegaskan dia ingin aku serius menanggapi perkataannya. “Kalau aku nggak ada, kamu harus tetep lanjutin hidup kamu ya. Di kehidupan selanjutnya mungkin kita bisa—”

Stop. Aku nggak mau mendengar kata-kata selanjutnya. Aku takut. Nggak berani membayangkan hal menyedihkan seperti itu. Ketiadaan seseorang yang disayang.

“Ada! Kamu pasti ada, Re. Jangan ngomong yang nggak-nggak deh! Capek tahu dengernya!”

“Nadhira, kamu dengerin aku dulu sampai selesai ya, Sayang.” Reo memohon  sambil menggenggam erat tanganku. “Aku pengen kamu hidup bahagia, itu aja kok.”

Kubalas genggaman tangannya sekuat tenaga. Kengerian ini membuat hatiku ngilu. Aku takut kehilangan. Takut Reo pergi. Takut nggak bisa lagi melihatnya.

“Tapi aku pengen bahagia bareng kamu,” pintaku, nggak sanggup menahan ketakutanku, meskipun nggak ada yang tahu soal kematian, tetap saja aku nggak mau membayangkan hari-hariku tanpa Reo.

Reo hanya tersenyum tipis, menatapku dengan matanya yang sendu.

“Waktu masih kecil, Papah pernah bilang ke aku, kalau orang yang meninggal akan berubah menjadi bintang. Always and forever… as long as the stars twinkle in the night.” Reo berkata dengan tenang, sementara aku menatapnya penuh kekhawatiran. “Aku ngerasa Papah selalu ada selama bintang bersinar. Makanya aku suka bintang, Nad.”

“Maksud kamu apa ngomong kayak gitu? Emang kamu kepengen jadi bintang? Nggak boleh!”

Reo tersenyum tulus sambil mengelus ubun-ubunku, lalu berbisik “You got to be strong, got to move on.”

Rasa khawatirku semakin besar menekan dadaku. Seperti mendapat Firasat.

Kusingkirkan tangannya—yang masih mengelus kepalaku—dengan kasar. Aku kesal mendengarnya berkata seakan dia punya penyakit parah dan dokter sudah memvonisnya akan mati sebentar lagi. Hah! Menyebalkan! Nggak ada satu pun di dunia ini yang berhak menentukan umur seseorang!

“Apaan sih kamu, Re?” Aku marah, kekhawatiranku berubah menjadi bulir-bulir kristal air mata, menuruni pipi. Tubuhku gemetaran, angin malam yang awalnya sejuk berubah dingin menggigit. “Aku ke sini buat ngerayain ultah bareng kamu, bukan persiapan kalau tiba-tiba kamu pergi!” ujarku lirih. “Sekali lagi kamu bahas ini! Aku nggak bakal mau ketemu kamu lagi, Re. Ngebayanginnya aja aku udah takut.”

“Maaf,” hanya kata itu yang  dia ucapkan. Kutatap dia sedalam mungkin, berusaha menunjukkan kalau aku benar-benar takut kehilangan dia. “Maafin aku, Nad.”

“Janji jangan pernah bahas lagi! Kematian bukan urusan kita, Re,” ucapku seraya meraih tangannya, kugenggam tangannya erat.

“Aku sayang kamu, jangan ngomongin ini lagi ya Re, please,” lanjutku dengan mata yang berkata-kaca. Lalu aku merunduk, pipiku menempel pada punggung tangannya yang masih kugenggam di atas meja. Air mataku menetes membasahi tangan Reo.

Reo berdiri lalu membungkuk dan mengecup kepalaku seraya berkata, “love me now forever.” Aku mengangguk lembut merasakan sengatan kasih sayang yang berusaha dia alirkan melalui ubun-ubunku.

Reo duduk kembali. Kemudian menatap langit malam yang lumayan cerah. Beberapa bintang berkerlip di atas sana. Sedangkan aku, masih lekat menatapi wajahnya yang teduh. Berusaha merekam tiap lekuk indah wajahnya. Malam ini, dia terlihat lebih bercahaya, auranya semakin sedap dipandang menambah ketampanannya. Tuhan, izinkan aku bersama dengannya lebih lama lagi.

“Nad, inget nggak, regulus bintang paling terang di rasi apa?” tanya Reo di tengah-tengah keasikan mataku menelusuri kerupawanannya. Kujawab pertanyaannya dengan anggukan yang lemah. “Apa?” Reo bertanya lagi.

“Rasi bintang leo, kan?”

“Iya,” jawabnya sambil tersenyum. “Kamu mau tahu nggak, mitologi rasi bintang leo?”

Aku mengangguk sambil mengulum senyum berusaha mengusir kegelisahan. Kutopang kepalaku dengan tangan, telapak tangan menempel pada pipi sebelah kiri, agar nyaman menyimak kekasihku yang akan menjelaskan tentang antariksa kesukaannya.

Ini menjadi pemandangan terfavoritku, sebab dia kelihatan istimewa ketika berbicara tentang bintang. Gerakan tangannya yang berirama dengan suaranya yang lembut. Wajahnya yang ceria, dan matanya yang selalu berpendar indah seolah-olah ada milyaran gemintang cantik. Dia benar-benar malaikatku.

Kami saling bertatapan, kemudian Reo tersenyum tipis, dan mulai bercerita.

“Suatu hari singa Nemea datang ke Yunani dan membunuh orang-orang. Raja Euritus memerintahkan Hercules untuk membunuh singa Nemea. Hercules menyerang singa itu menggunakan semua senjata, tapi si singa terlalu kuat dan kebal.

Akhirnya Hercules melawan singa Nemea dengan tangan kosong. Dia bergulat dan berhasil memenangkan pertarungan itu. Hercules selalu memenangkan semua pertarungan. Agar peristiwa itu bisa diingat oleh semua orang, Dewa Zeus mengirim jiwa singa Nemea ke atas langit.”

“Hercules anaknya Zeus, kan?” tanyaku seakan masuk dalam kisah yang Reo ceritakan. Aku lupa-lupa ingat soal mitologi Yunani. Reo mengangguk. “Yang ibunya manusia?” tanyaku lagi, Reo kembali mengangguk masih dengan mengulum senyum tipis. “Jadi menurut mitologi Yunani, rasi bintang itu berasal dari nyawa makhluk hidup yang dikirim ke langit, termasuk nyawa manusia yang udah mati?”

“Iya, seperti yang Papah aku bilang, diabadikan menjadi bintang di langit.”

“Kok kamu percaya, sih?”

“Ya habis mau gimana, namanya juga anak kecil,” Reo nyengir, “Tapi emang bener kan nyawa manusia pindah ke alam lain? Anggap aja ke langit. Jadi kalau kamu kangen sama mereka yang udah meninggal, kamu bisa lihat bintang-bintang di langit, Nad.”

3
Di tengah lamunan dan kerinduanku kepada Reo, tiba-tiba tangan seseorang mengulurkan gelas plastik berisi cairan panas dengan uap mengepul. Mataku menangkap se-cup kehangatan yang ke luar dari gelas, menimbulkan hasrat untuk segera menyesapnya di tengah hawa dingin.

Penasaran, aku segera menoleh dan melihat Cowok Arab itu sedang memerhatikanku. Wajahnya kini berubah, kepongahan itu hilang digantikan dengan keteduhan yang menghanyutkan.

Cowok itu memberikan isyarat—agar aku bersedia menerima gelas itu—dengan gerakan tangannya. Aku langsung membuang muka dan mengabaikannya.

“Terima atau kamu nggak bakal dapet apa yang kamu butuhkan!” ujar si cowok setengah mengancam.

Ini orang niat ngasih nggak sih?! ujarku dalam hati, kembali meliriknya jutek. Sedetik berikutnya dengan setengah hati, kuraih cup yang ada di tangannya tanpa menatap cowok itu. Aku ingin tahu, apa sih maunya?!

Seketika telapak tanganku yang dingin terasa hangat akibat hantaran panas dari gelas plastik. Kemarahanku menguap bersama uap panas yang ke luar dari gelas. Dalam hati, aku mengucapkan terima kasih kepada cowok itu. Kulirik wajahnya yang sedang serius menatapku, senyumnya terulas tipis namun syarat kepuasaan karena aku bersedia menerima pemberiannya. Sepertinya dia nggak terlalu jahat juga.

Kemuan kuesap perlahan isi gelas tersebut—yang ternyata adalah hot chocolate kesukaanku. Tahu saja cowok ini, dia memberiku cokelat agar suasana hatiku berubah menjadi tenang. Dan memang betul, aku lebih rileks sekarang.

Hmmm, lezat. Mulutku penuh rasa cokelat yang hangat. Aku meliriknya dari bibir gelas lalu berkata, “makasih, ya.”

Dia hanya mengangkat bahu masih dengan gaya sok cool, lalu berkata “nih buat kamu.” Disodorkannya kantong plastik putih bergambar logo toko buku, sementara aku hanya terdiam menatapnya. “Nggak mau nih?”

Gantian aku yang melemparkan wajah tanpa ekspresi. “Mau apa maksudnya?”

“Benda yang ada di dalam kantong ini.”

“Iya. Itu benda apa ?” tanyaku mendadak berubah menjadi bodoh, tatapan cowok itu berubah jengkel. “Buku, ya?” Aku bertanya lagi.

“Menurut kamu apa? Lontong?” Dia bertanya. Sementara bibirku tertarik beberapa centi seraya meliriknya. Dia melucu ya?! “Kok malah senyum? Ini mau nggak? Saya hitung sampai tiga, kalau nggak mau—”

“Iya-iya mau,” potongku sambil meraih kantong itu, lalu aku melemparkan senyuman penuh terima kasih. Cowok itu malah mengalihkan pandangannya ke deretan mobil yang tengah diserang air hujan.
“Ini serius buat saya?” tanyaku.

Cowok Arab itu tersenyum seraya mengangguk. Seulas senyuman tipis menghiasi bibirnya dan membuatnya terlihat jauh lebih tampan lagi. Baru kali ini aku melihat senyuman merekah di bibirnya, dan itu benar-benar menawan. Seakan musim dingin telah berlalu, dan musim semi menyapa. Senyum penuh keceriaan.

“Makasih, ya,” ujarku.

“Dari pada nunggu di sini, basah dan dingin, mending kita mampir ke toko itu,” usulnya sembari menunjuk salah satu toko donat di samping gedung. “Kamu langganan busway, kan? Kecuali kamu mau basah-basahan di dalam busway nanti.”

Dia benar, aku pengguna bus Trans Jakarta yang lumayan setia—kalau sedang nggak mood menyetir motor. Aku hanya tersenyum tipis dan menerima tawaran cowok itu.

Suasana di dalam toko sunyi dan tenang. Nggak terlalu banyak pengunjung, bisa dihitung menggunakan jari. Lagipula, nampaknya mereka pun menikmati kesyahduan nuansa mendung kelabu. Dingin, tenang, dan menentramkan. Bahkan, titik-titik air yang tertinggal di kaca jendela seakan meniupkan melodi genangan air hujan yang terlintas ban mobil berkecepatan tinggi. Suasana hujan, menggambarkan keteduhan surga. Menebalkan kerinduanku pada Reo.

Di tengah kebisuan dan kesibukan dengan pikiran masing-masing, waitress wanita bercelemek dan bertopi mengantarkan pesanan kami. Dua buah donat bertoping krim dengan taburan kacang almond dan dua cangkir cappuccino hangat mejeng di atas meja kayu bulat.

“Nama saya Haykel,” katanya selembut beledu, memecahkan kesunyian.

Cowok Arab itu duduk di hadapan sambil menatapiku. Seluruh perhatiannya seakan hanya tertuju padaku. Namun kuenyahkan kebesaran rasaku, agar nggak terlalu canggung. Kubalas tatapannya, penuh tanda tanya. Dan sebenarnya penasaran, kenapa dia tetiba berubah menjadi baik padaku.

Aku memandangi rahang perseginya yang kelihatan jantan. Ada titik-titik rambut tumbuh di bawah dagu dan sedikit di atas bibir merahnya yang melengkung sempurna. Dari sorot matanya, dia terlihat menjanjikan. Sisi cool-nya hilang, ada sedikit wibawa terpancar dari mimik wajahnya.

“Kamu Nadhira, kan?” tanya Haykel agak kaku, aku hanya mengangguk. “Nadhira Amirah Rahman.”

Aku tercenung, keningku mengerut, dan kedua alisku terpaut. Dari mana dia tahu nama panjangku?

“Kok kamu tahu nama panjang saya?” tanyaku.

“Kan kamu yang tulis sendiri di kertas kemarin.”

“Masa sih? Kayaknya nggak deh,” sergahku sambil mengingat-ingat.

“Iya, kamu tulis nama panjang kamu, Nadhira,” jawabnya, saat menyebut namaku suaranya kedengaran halus banget membuatku merinding, jadi aku hanya mengangguk untuk meresponnya.

“Hmm… kok kamu bisa ada di sini?” tanyaku.

“Ini Jakarta, Nadhira Amirah,” ucapnya.

Mendengar ada seorang cowok menyebut nama panjangku, hatiku berdebar aneh, rasanya senang mendengar orang lain menyebut nama panjang.

“Banyak orang di kota ini. Padat dan tempatnya nggak terlalu luas. Jadi, kemungkinan ketemu besar, kan?” tanyanya.

Aku melongo. Kenyataannya aku jarang kok bertemu kawan SMP meski Jakarta nggak luas.
Dia tertawa kalem lalu melanjutkan, “kata mamahku, di sini koleksinya lumayan lengkap. Jadi, saya ke sini. Di perpus nggak bisa pinjem lama, saya pikir cukup baca satu kali ternyata lebih puas memiliki.”

“Oh, kalau gitu sama! Saya ke sini juga rekomendasi Mamah,” kataku sembari memerhatikan mata sendunya. Serius, segala yang ada di wajahnya terlihat indah dan cocok. Lukisan bernyawa yang sempurna. “Kamu serius mau kasih buku ini buat saya?” tanyaku, masih merasa nggak yakin.

“Ya.” Dia menjawab sambil menatapku dalam-dalam. “Saya ngerasa bersalah karena udah nggak sopan dan nggak peduli sama kamu. Harusnya saya pinjemin buat fotokopi kemaren. Padahal kamu butuh banget, sampe baju kamu lepek kena air kotor, kan?” ucapnya, lalu tertawa kecil, sedangkan aku mengulum senyum. “Saya nggak terlalu butuh buku itu. Serius kok, buat kamu.”

“Makasih banget, ya. Saya bener-bener butuh buku ini. Kalau nanti kamu mau baca, boleh kok pinjem.”

“Oh, jadi sekarang posisinya ditukar, ya? Saya yang pinjem buku itu ke kamu?” Haykel melirikku dari balik bulu matanya. Aku mengangguk sambil menyembunyikan senyum. Lalu dia terkekeh. “Maafin sikap nyebelin saya, ya. Tombol toleransinya lagi rusak.”

Aku mengangguk seraya tersenyum, kemudian berkata “itu tombol urgent, nggak boleh rusak, benerin dulu sana,”

Dia tertawa, “udah diperbaiki kok, gara-gara kena hujan tadi,” katanya. Kini kami berdua tertawa kecil. Haykel sebenarnya baik. Terkadang, apa yang nampak di luar belum tentu mencerminkan dalamnya.

“Kamu suka banget ya sama sosiologi?”

“Eh?” Aku terkejut diajukan pertanyaan berbobot pada obrolan pertama. “Ooh… saya suka sosiologi karena pacar saya. Dia suka sosiologi. Reo punya cita-cita besar,” kataku akhirnya. Ada rasa pahit dan pilu mengingat kejadian itu. 
6
Sebulan sekali, aku mengunjungi makam Reo. Kali ini nggak sendiri, ada kedua sahabatku, Adele dan Coca. Juga ketiga sahabat Reo, ada Amru, Edgar dan Prasto.

Kami berdoa, lalu mengenang beberapa momen yang pernah dilalui bersama. Airmataku nggak pernah kering kalau sudah membahas tentang bintang regulusku ini. Bayangannya berseragam putih abu-abu, rapi dengan dasi dan gesper, juga nggak ketinggalan alis hitam dan senyum manisnya terus menguasai benakku. Aku kangen padanya.

Kerinduan yang terus bertambah kutumpahkan di samping pusaran makam. Bunga menutupi gundukan tanah. Pedih rasanya melihat batu nisan bertuliskan nama orang yang sangat kusayang. Reonald Thaqif Amsyar.

Pulang dari makam, kami masih ada acara kumpul bersama. Selalu mampir ke Apartemen Reo, hanya sekadar ngobrol atau lebih dari itu. Misalnya karaoke bareng, nonton bareng, atau makan di luar. Untuk saat ini, kami hanya duduk-duduk santai di depan tv plasma berukuran besar dan tipis.

Ruangan ini terang benderang karena langsung bersebelahan dengan kaca-kaca jendela yang memenuhi tembok ruangan, menyajikan pemandangan wilayah Dr. Satrio penuh dengan mobil mikrolet berwarna biru asin dan jajaran pekerja kantoran yang sedang mencari santapan siang hari. Jendela-jendela besar berjajar sepanjang ruang keluarga dan ruang makan—yang hanya dipisahkan dengan gundukan tangga tanpa tembok pemisah. Tirai cantik berwarna krem disangkutkan di sisi ujung jendela.

Sofa-sofa empuk berwarna putih tulang ini tersusun rapi mengelilingi meja kayu—dua sofa ganda, dua sofa single, dan satu sofa tanpa lengan—dengan karpet tebal lembut yang warnanya senada dengan sofa, hanya sedikit lebih tua. Televisi plasma berukuran sedang lengkap dengan home theatre berdiri mantap di hadapan kami.

Dapur dan pantry bersebelahan. Dapurnya berada di dalam ruangan terpisah bilik tanpa pintu, dan pantry di ruang terbuka berdampingan dengan ruang keluarga—memudahkan kami mengambil makanan setiap kali disediakan.

Mamah suka lukisan jadi lumayan banyak lukisan berbingkai yang menempel di tembok. Apartemen ini benar-benar minimalis, furniture matching, dan tertata rapi. Kami semua betah ada di sini.
“Hahaha. Goblok.” Tawa Edgar memecahkan kesunyian di ruang keluarga apartemen Reo.

Dia memang selalu seperti itu, kelebihan energi. Edgar melempar beberapa butir kacang tanah masuk ke mulutnya. Padahal dia sedang duduk setengah tiduran di atas sofa dengan kaki berselonjor nggak sopan di atas meja—perlu diketahui! Ada enam gelas beling berisi cairan orange manis menyegarkan, satu teko cantik dengan setengah penuh orange juice, dan dua mangkuk kudapan, kacang kulit dan popcorn—ngeri banget kakinya menyenggol salah satu benda pecah beling itu. Lalu Edgar tertawa lagi melihat adegan lucu Mr. Bean yang sudah diputar berkali-kali di tivi. Aduh aku ngeri dia tersedak kacang.

Rambut Edgar yang ikal panjang membingkai wajah super imutnya—memberi kesan kekanak-kanakan—ada tahi lalat tipis di bawah bibir. Pokoknya menggemaskan. Saat ini Edgar bekerja di salah satu TV swasta, katanya sih bagian desain grafis.

Gayanya benar-benar santai. Kaos oblong, celana jeans, sesekali kaos berkerah, selalu menggunakan sepatu banyak mode, didominasi sneaker—kecuali sepatu formal—sering juga pakai kemeja bassball lengan pendek + manset, dan ukurannya nggak pernah pas di badan. Maksudku, pakaiannya selalu lebih besar satu size dari semestinya, no slimfit. Yah aku sih mengerti, dia kan petakilan banget. Bisa-bisa baju slimfitnya sobek.

“Lucu emang, Gar?” tanya Prasto seraya menggeleng lalu dia melempar kulit kacang ke rambut Egdar yang mirip mie.

Sementara Prasto bekerja menjadi seorang akuntan—di sebuah perusahaan swasta ternama—selalu sibuk. Pergi pagi, pulang sore. Tapi setahuku, dia menyukai pekerjaannya. Karena begitulah Prasto, tipe cowok serius, berkacamata bulat—tapi tetap trendy—rambutnya disisir rapi ala tahun 40an, cocok banget dengan wajah gantengnya yang langka. Hari-hari santainya juga dominan mengenakan kemeja meski bawahannya jeans. Cowok ini mengingatkanku pada Reo. Dia pendiam, tenang, dan pembawaannya dewasa.

“Lucu, To.” Amru ikut tertawa. “Dia manusia paling kocak sedunia! Lo bayangin ya, masa kepala segede gitu bisa masuk ke pantat ayam? Pea!” Amru masih tergelak.

“Itu kalkun bego.” Edgar nyamber.

“Ya gitu deh, tetep aje absurb,” jawab Amru. tawa mereka membahana di ruangan ini.

Yang satu ini Amru, dia nggak sesantai Edgar dan kadar seriusnya nggak setebal Prasto. Amru perpaduan. Dia selalu netral menilai apa pun, nggak pernah memihak. Bijaksana.

Rambutnya hampir mendekati botak. Wajahnya tegas. Hidungnya mancung. Bibirnya penuh. Dia paling betah memelihara rambut tipis membentuk garis yang mengelilingi bibir atas sampai dagu. Kalau tertawa, serasa menyicipi gula. Manis.

Belakangan ini, Amru sering bertemu dengan Ayah dan mamasku. Perusahaan kontruksi ayahku bekerja sama dengan perusahaan advertising ayah Amru. Pekerjaan yang cocok untuk Amru, karena dia kreatif dan inovatif, selalu bisa menemukan ide-ide brilian yang unik.

Ramai, kan? Iya memang ramai, aku dikelilingi lima orang sahabat, ditambah satu adik Reo yang sangat kusayangi—Reynaldi Syafiq Amsyar—berusia 17 tahun, wajahnya sebelas-dua belas dengan Reo, meski personality-nya bersebrangan. Rey lebih santai. Kalau Reo suka fisika, Rey excited dengan komputer. Pernah sekali aku lihat dia sedang mengotak-atik perangkat keras komputer, karena memang dia anak STM.

Semua orang-orang ini selalu mengelilingiku, suasana jarang sepi. Tapi tetap saja, rasanya ada yang kurang. Rasanya hampa, karena sebagian hatiku meledak dan hancur bersama kematian Reo.

Re, kangen! Bisikku lirih. Aku selalu rindu pada Reo. Sudah lama banget nggak melihat senyumnya.

“Nad,” panggil Coca. Aku meliriknya, dia duduk di sampingku seraya mengikir kuku tangannya yang lentik menggunakan alat kecantikan khusus kuku.

Kenapa dipanggil Coca, padahal nama aslinya Firas? Karena dia seperti cewek. Gerakannya gemulai, suaranya manja, pakaiannya super girly—celana jeans ketat, kemeja cowok tapi warnanya selalu cerah ngejreng dan bulu matanya lentik—gaya rambutnya juga paling punya ciri khas, berwarna merah menyala dan dia seorang desainer pemula yang cukup terkenal. Well, kemampuannya memang diperhitungkan selepas lulus dari universitas keren di Perancis.

“Gue denger, lo lagi deket sama cowok, ya?” tanyanya.

“Denger dari siapa? Nggak kok!”

“Adele bilang cowok itu bikin lo menyala-nyala. Girl on fire, gitu.”

“Ah ngaco! Nggak, Ca, gue baru kenal juga sama dia. Lagian dia juga nggak hubungin gue,” jawabku. Memang, sejak terakhir bertemu, dia belum menghubungiku—seminggu yang lalu.

“Siapa, Nad?” tanya Edgar yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku, mata bulatnya menatapku lurus-lurus. “Kenalin ke gue! Kalau nggak tuh cowok nanti gue santet pake boneka perca.”

Tawa Coca pecah. Aku pun ikut tersenyum lebar.

“Lo mau nyantet, apa main boneka?” tanya Coca, masih tertawa. “Kerenan dikit dong, pake jenglot kek!”

“Gue mau main sama lo aja, Ca, lo mau juga kan?” Edgar menjawab asal, sengaja menggoda Coca.

Coca mendengus jijik. Meski agak kecewek-cewekan, dia normal. Masih suka cewek. Sementara aku dan Edgar terkekeh melihat ekspresi Coca. Kemudian Coca berpindah duduk ke samping Prasto.

“Cowok siapa, Nad? Cerita dong!” Edgar merayuku, dia sudah duduk bersandar pada sandaran sofa, kepalanya sengaja didekatkan dengan lenganku.

“Nggak ada cowok-cowokan,” kataku sambil mendorong kepala Edgar menjauhi lenganku. Dengan mudah kepalanya tegak, tapi lama-lama turun lagi menempel pada lenganku. Kudorong lagi, eh menempel lagi. Berulang seperti itu, sampai tiga kali. Aku tertawa sambil berkata, “Ih, kepala lo nggak bisa ditegakin, ya?”

“Nggak! Sampe lo cerita!” jawabnya.
Aku menyerah dan membiarkannya bersandar padaku. “Nggak ada cowok selain Reo, Gar.”

“Jangan bohong, gue bisa baca pikiran lo, Nad!” seru Edgar, kurespon dengan menjauhi kepalanya lagi, tapi dia masih aja berhasil menyandarkan kepala sebelum aku sempat bangun. Aku tertawa lagi, sahabat Reo yang satu ini memang seperti anak-anak. Usil.

“Ih, Edgar! Berat tahu!” aku memekik gemas.

“Lo nggak sadar apa, ada kemiripan lain antara gue sama Edward Cullen, selain wajah gue yang tampan?” canda Edgar. Aku memberengut, pasti narsisnya keluar deh! “Gue bisa baca pikiran lo!” sambungnya.

“Ngomong sana sama beo. Gue nggak mau denger!” kataku berpura-pura menutup telinga.

“Ye, dibilangin!”

“Bodo!”

“Nih ya, gue coba tebak,” ujar Edgar lalu dia duduk tegap, menyingkirkan kedua tanganku dari telinga lalu tanganku sudah berada dalam genggamnya. Edgar mendadak serius menatap wajahku.

Karena kami bersahabat sudah cukup lama, aku membalas tatapannya. Di tengah keseriusanku menatap Edgar, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Nggak pernah aku melihat kilat matanya yang serius. Kami saling tatap lama. Hening.

“Lo suka kan sama gue?” tanyanya, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku langsung manyun. Edgar narsis lagi.

Kemudian Edgar pergi begitu saja menuju dapur, masih dengan tawanya yang membahana.

“Berisik banget ya, Edgar.” Adele muncul dengan membawa sebuah buku romantis klasik, karya Jane Austin, Emma. Dia duduk di sampingku. “Gimana cowok yang nyeritain mitologi rasi bintang cancer? Udah hubungin lo?”

Aku menggeleng, “Belum, mungkin dia nggak tertarik bertemen sama gue.”

“Cie sedih… cie…” ledek Adele, “jangan-jangan lo beneran ngarep dia ngubungin lo, ya?” tanya Adele, sementara aku menggeleng. “Ayo ngaku!”

Aku tersipu malu, “Sedikit.” Aku berbohong. Jujur aja, aku kepengin kenal sosok cowok yang tahu tentang mitologi rasi bintang—selain Reo.

“Asik dong! Lo bakal normal lagi.” Coca yang duduk di samping Prasto di sofa di hadapanku ikut nimbrung. “Kenalin ke kita, ya.”

Aku melihat Amru dan Prasto saling bertukar pandang, lalu mereka berdua tersenyum padaku. “Iya, wajib dikenalin.”

Di tengah-tengah perbincangan yang akrab, ponselku berdering nyaring. Aku malas angkat, nomornya nggak kukenal. Jadi aku mengabaikannya sampai ringtone itu berhenti sendiri.

Tapi si pemilik unknown number itu nggak menyerah dan membuat ponselku berdering sampai tiga kali. Akhirnya aku menepi, menghadap kaca bening yang menampilkan gedung-gedung tinggi Jakarta di siang hari hanya untuk mengangkat telpon yang nggak kuketahui. Aku menyapa dengan nada malas dan judes.

“Halo! Siapa nih?”

“Nadhira? Kenapa baru angkat telponnya?” tanya suara itu, nampaknya suara itu sangat familiar di telingaku.

“Maaf, ini siapa?” Aku balik bertanya sambil mengernyit.

“Kamu cuma mau angkat telpon yang kamu kenal? Oke, aku tutup telpon ya…”

“Eh, jangan!” cegahku. “Maaf, tadi aku lagi ada tamu. Ini siapa?”

“Haykel,” jawabnya selembut beledu.

Jantungku berdekup sedikit lebih cepat, aku senang mendengar suaranya.

“Hallo?” Haykel melanjutkan, karena aku hanya berdiam diri seraya merasakan setitik kebahagiaan yang aku sendiri lupa bagaimana rasanya.

“Iya, Haykel, ini Nadhira.” 

“Hai, Nad,” sapa Haykel, sepertinya dia terdengar gembira. Suaranya menentramkan.

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu juga pasti baik, kan?” tanyanya lembut penuh perhatian. Aku hanya berdeham merespon pertanyaannya. Aku merasakan ada yang aneh dengan hatiku. Nggak tahu apa yang terjadi, aku cuma… cuma bahagia bisa bicara lagi dengannya.

“Besok kamu sibuk nggak?” tanyanya, kedengarannya sedikit gugup.

“Nggak terlalu sibuk kok,” jawabku.

“Kalau gitu besok mau temenin aku nyari buku?”

“Di mana?”

“Belum tahu, yang penting kamu besok bisa,” kata Haykel, aku agak ragu untuk menerima ajakannya. “Gimana Nad, bisa?”

“Ng… Oke.”

“Aku jemput, ya.” Haykel menawarkan.

“Eh? Jemput? Nggak usah deh, ketemu langsung di TKP aja, ya.”

Sebenarnya bukan itu alasanku. Kami baru kenal, kalau dia jemput aku, terus aku dibawa kabur gimana? Ketemuan langsung di lokasi tujuan kayaknya pilihan bijak. Well, di sana cukup banyak orang jadi dia nggak akan bisa membawaku kabur. Waspada itu penting.

“Oh, oke. Grand Indonesia, ya.”

 “Ok. See you tomorrow,” ucapku malu-malu dan senang bukan main.

“Dah…” katanya.

“Dadah…” balasku.

Sepertinya kami sama-sama enggan memutuskan sambungan telpon. Setelah beberapa detik, akhirnya aku yang mematikan telponnya. Aku menggigit bibir menahan senyuman.

“Ehem… ada apa nih senyum-senyum? Bahagia banget kayaknya, Kak!” kata Rey yang sudah berdiri di belakangku.

“Rey, kamu Knowing Every Particular Object!! Alias KEPO!” ledekku, lalu langsung berjalan setengah menuju ruang tamu menghampiri sahabatku.

Di ruang tamu kelima sahabatku melemparkan pandangan yang aneh. Maksudku, mereka seperti melihat benda mati yang bergerak sendiri di rumah sakit berhantu.

“Kenapa?” tanyaku merasa ditusuk tatapan yang kelihatannya dalam.

“Nggak apa-apa.” Adele yang menjawab, lalu kedua sahabatku saling bertukar pandang dan tersenyum lega.

Ada apa sih dengan mereka?! Well, biarkan saja yang penting aku senang dan nggak sabar menunggu besok.


Minggu, 28 Desember 2014

Review Novel: Samurai #1 Kastel Awan Burung Gereja

(For Mizan CLBK 2014)

Judul: Samurai: Kastel Awan Burung Gereja
Judul asli: Cloud Of Sparrows
Karya: Takashi Matsuoka
624 h.; 20,5 cm
Edisi kedua; Cetakan Pertama, November 2014
Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka



Well done, akhirnya selesai baca juga. Hore! Puas dan nggak sabar lanjut baca yang kedua! >,<

Hmmm… Aku sebenarnya nggak mengerti bagaimana sih cara yang ‘benar’ me-review sebuah buku. Tapi aku tertarik sekali untuk menyebarluaskan keeksotisan buku ini—belum pernah merasa tertarik sedalam ini pada negara yang sempat menjajah Indonesia, Japan.

Sulit untuk mengungkap secara gamblang apa yang kudapatkan dalam buku ini. Satu kata yang bisa kugambarkan mengenai buku Samurai adalah KAYA! Aku bakal ungkapkan sedikit pendapatku mengenai buku ini tanpa spoiler ya, nanti nggak seru lagi dong. Pokoknya, ini buku selalu ada di samping kepalaku sebelum tidur—bakal dapat predikat buku yang bakal bikin aku nangis kalau hilang. Karena tiap lembar menyuguhkan sesuatu yang manis, indah, keji, duka, cinta, ketegangan, pesona, dan kesempurnaan. Karena nggak hanya stories-nya yang memukau, tapi kearifan, dan history-nya memang ngena banget.

Mulai dari;
1)      Novel ini historical fiction yang dibalut dengan narasi, dialog, dan kisah yang apik. Ibaratkan sambil menyelam minum air; kenikmatan fiksi yang cantik dalam fakta sejarah yang keji.
Selama baca semua emosi jadi satu; penasaran, intrik, trigger, twice, tipu muslihat, semua keren banget. Miris, karena banyak banget orang yang mati dalam buku ini, termasuk bayi. Terkagum dengan karakter favorit Genji, Shigeru, Matthew Stark (bahkan semua karakter yang ada di sana kuat, termasuk Hanako—pelayan Klan). Feeling Uwaw, gimana cara menggambarkan perasaan itu ya? Pokoknya aku terperangah dan sambil manggut-manggut. Berasa balik ke Zaman Edo, karena penggambaran settingnya sempurna. Dan yang jelas aku dapat ilmu pengetahuan baru!

2)      Kepemerintahan Shogun yang melemah di akhir Zaman Edo. Nah, supaya paham sejarahnya, saranku kalian baca dulu ya restorasi meiji. Nanti bakal jelas banget dan feeling uwaw-nya berasa. Karena apa yang diramalkan Lord Shigeru berkaitan dengan masa sekarang. Buatku ini sangat menarik, menggambarkan gimana kekhawatiran bangsawan Jepang sebelum budaya modern masuk / orang asing.

3)      Budaya Jepang yang benar-benar kental dengan kesetiaan dan kehormatan—termasuk cara mereka mengontrol emosi untuk menjaga ekspresi dan perilaku agar tetap terlihat bermartabat. Nah dari sini jelas, kenapa banyak mereka (samurai, ninja, shogun, bangsawan) tega membantai orang yang melakukan pelecehan sedikit saja—termasuk hara kiri—karena bagi mereka kehormatan lebih tinggi dari kebahagiaan termasuk hidup. (Uh… bagian ini kudu kuat hati deh, karena imajinasiku bermain saat membaca kisah itu, aku kebayang banget cara-cara keji pembunuhannya… Hiks hiks T_T).
Kedisiplinan mereka juga terjaga banget. Perbedaan status (kasta) yang tingkatannya sangat-sangat jelas, mulai dari keluarga bangsawan sampai keluarga terbuang disebut Kaum Eta.

4)      Kekayaan lain yang ada di buku ini adalah perbedaan cara pandang budaya antara Jepang dan Amerika. Mulai dari perbedaan kecantikan wanita, perabotan, dan bahasa. Di buku itu orang Jepang nggak perlu perabotan seperti kursi, meja, etc. Sedangkan orang Amerika terlalu pegal duduk di atas lipatan kaki. Menarik deh pokoknya, baca sendiri ya.

5)      Nah ada lagi yang menarik, soal agama di sini. Awalnya aku paling nggak mau baca-baca berbau agama di luar agamaku. Tapi membaca ini aku jadi tahu satu hal, bahwa setiap manusia harus hidup dengan rukun dan damai—apapun keyakinannya.

6)      Terakhir. Setiap karakter punya kisah masa lalu yang berbeda. Nah penulis di sini keren banget menceritakan sejarah kisah mereka, sehingga menjadi jelas kenapa dan apa alasan mereka bertindak. Semuanya logis.

7)      KAYA! Dari awal sampai akhir benar-benar apik sekali story ini. Kebahagiaan, ketegangan, kecemasan, penasaran, dan hasrat ingin membaca sampai habis bahkan berharap kisah ini nggak akan habis menguasai diri. Hasilnya? Jelas, kearifan nilai sosial dan ilmu sejarahnya juga dapat.

Ini ada quote kesukaanku, sebenarnya banyak banget. Tapi aku cantumkan sedikit saja ya. ^_^
-----------------------------
Kata-kata dapat melukai. Diam dapat menyembuhkan.
Tahu kapan saat untuk bicara dan kapan saatnya diam adalah kearifan seperti yang diceritakan hikayat.

Pengetahuan dapat menghambat. Ketidaktahuan justru dapat membebaskan.
Tahu kapan saatnya untuk tahu dan kapan saatnya untuk tak tahu adalah kearifan para nabi dan kaum bijak.

Tak terganggu oleh kata-kata, kediaman, pengetahuan atau ketidaktahuan, sebilah pedang tajam menebas tajam. Ini adalah kearfian seorang prajurit.
Suzume-No-Kumo (1434)

-------------------------------------------------
Lord Chamberlain berkata, “Ada perbedaan pendapat tentang apakah sifat baik itu sudah ada sejak lahir atau didapat dari pendidikan. Bagaimana menurut pandangan Anda, Tuanku?
Lord Takanori menjawab, “Tidak ada artinya.”
Lord Chamberlain berkata lagi, “Jika sifat baik ada sejak lahir, maka semua latihan menjadi tidak berguna. Jika sifat baik didapatkan dari latihan, mereka dari kasta terendah dapat menyamai seorang samurai.”
Lord Takanori menjawab, “Sifat baik omong kosong. Bukan sifat baik juga omong kosong.”
Suzume-No-Kumo (1817)
----------------------------
“Lagi pula, seberapa penting sesuatu yang fana seperti kecantikan fisik?” Hide menggeser percakapan ke arah yang lebih aman. “Yang penting adalah kecantikan di dalam. Dan dibidang ini, kecantikan Lady Emily tak bisa dikalahkan siapa pun.”
“Kamu jelas-jelas baru saja menyatakan sebuah poin penting,” kata Taro yang juga lega dengan pergeseran percakapan. “Kecantikan sejati ada di dalam diri.”
-----------------------------

Nah, begitulah review-ku tentang buku ini. Terima kasih untuk Bapak Takashi Matsuoka atas kesempurnaan kisah dan manfaatnya. Terima kasih juga untuk penerbit yang membuka jalan ini. Dan aku beruntung menjadi orang yang ‘telah’ membaca masterpiece ini. Aku mau cuuuus baca kisah yang kedua ya! Kalau kalian sudah baca mampir ke blogku lagi. Kita ngobrol. Hehehe. Arigatou Gozaimatsu!!!! \(>,<)/

Senin, 15 Desember 2014

Break a Leg Mizan!!!

Mizan CLBK 2014, ya?

Hmmm… Mizan adalah salah satu penerbit favoritku. Setiap kali datang ke pameran buku—Indonesia Book fair, Jakarta Book fair atau pun Islamic Book fair—stand yang wajib dan pertama kukunjungi adalah Penerbit Mizan. karena memang banyak banget buku ‘bagus’ incaranku di sana! Khususnya cerita-cerita fantasi!

Wah… Mizan Fantasy itu surganya fiksi-fiksi fantasi. Nggak cuma itu sih, aku juga suka dengan buku lain anak dari Mizan berlabel Bentang Pustaka. Dan oh iya, Mizan ini juga menerbitkan buku-buku bagus lain, seperti bukunya Jostein Gaarder. Aku sih baru punya dua—Dunia Sophie dan Dunia Anna—tapi suka banget konten dan narasinya, syahdu. Benar-benar masuk ke dalam dunia Anna dan Sophie. Asas fungsionalnya juga ngena



Ini beberapa koleksiku yang kukumpulkan baru dua tahun belakangan—setelah vakum membaca. Yang paling favorit itu tuh yang paling atas. Yup… seri I`m Number Four. Masih nunggu lanjutannya, nggak sabar banget. Koleksiku bakal nambah nanti; Ender`s Game, Seri Divergent, Seri Maze Runner, dan yang paling gemes buku-buku Rick Ordian… Ah kepengin banget punya semuanya!!!


Dan yang dua ini sangat memuaskan, menghilangkan dahagaku! Aku sedang tertarik dengan Jepang zaman Edo. Di buku ini nggak cuma kisah klasik biasa, tapi penuh intrik, tipu muslihat, trigger, dan banyak banget pengetahuannya. Nggak perlu mikir dua kali buat beli seri ini. Aku langsung lari ke kasir dan baca! Dan langsung saja, si Bangsawan Agung Akaoka menjadi salah satu karakter favorit sepanjang masa. Masih muda, tampan, hatinya mulia, dan pasti jago bertarung. Trims sudah menerbitkan buku ini!
Ini review-nya: http://kaannisa.blogspot.com/2014/12/review-novel-samurai-1-kastel-awan.html

Oh iya...
Aku paling hobi datang ke book fair!!
Pameran yang paling nggak bisa dilupain itu waktu stand Mizan menang sebagai stand paling kreatif—aku lupa-lupa ingat, pokoknya dapat penghargaan gitu dari pihak book fair, pertengahan tahun 2014—karena stand-nya pakai konsep kapur gitu. Dinding-dindingnya diarsir pakai kapur aneka warna. Banyak variasi gambar dan quote di sana. Pokoknya menarik banget!

Aku malah sempat lihat saat salah satu crew sedang menghapus gambar lalu diarsir ulang dengan gambar yang baru. Whoa, aku sampai terpukau dibuatnya, tangannya ahli banget. Dan bikinnya itu nggak gampang, pakai proyeksi komputer! Sudah gitu nggak cuma satu design dalam periode pameran, diperbarui dengan gambar kapur yang keren-keren!!!! Ya ampun, sudah sepantasnya stand Mizan dapat predikat itu! Salut banget!

Nggak cuma interiornya saja sih. Event-event yang diadain juga oke banget.
Salah satunya event yang diadain Mizan Fantasy. Itu loh ada acara lomba cerdas cermat dan semacam running ke beberapa post-post dengan game-game menarik—aku lupa nama gamenya apa. Tapi sedih bangeeeet! Karena aku nggak bisa gabung, Mamahku tiba-tiba minta antar arisan keluarga. Hiiiiiiks. Padahal admin yang bertanggungjawab sudah menghubungiku dan menjelaskan tata cara event itu—baik banget lagi adminnya, suaranya juga sekseh, wkwkwkwk… cowok loh cowok, jadi aku nggak jeruk makan jeruk. Eh pokoknya harus adain event yang lebih keren lagi ya!!! Aku mau ikutan!!!

Oh iya, selain buku-bukunya, orang-orang yang ada di dalamnya juga ramah-ramah dan santun banget loh. Contohnya admin twitter penerbit mizan—aku nggak tahu siapa yang jelas dia keren banget—care sama tweeps. Sering mengingatkan shalat tepat waktu, dzikir, bahkan sampai makanan pun dishare. Pokoknya, kalau baca tweet Penerbit Mizan muncul di timeline bawaannya sejuk banget. Nih, kayak gini contoh-contoh tweetnya.





Nah bentar lagi kan tahun 2015, pastinya Mizan dan semua orang punya resolusi. 
Resolusiku, aku kepengin menang dan dapat voucher untuk melengkapkan koleksiku, Hehehe. Serta bisa banyak baca buku-buku lagi.

Untuk Mizan, aku berharap Mizan bisa lebih baik lagi, terus terbitkan buku-buku bermanfaat (misalnya buku yang berjudul Shogun by James Clavell), membuka kesempatan pada penulis debut, banyakin novel fantasi yang bermutu. Dan yang paling penting tetap ramah, santun, dan peduli sama tweeps tercinta. Hehe. Aamiin. Jazakumullah Khairan Katsiron.

GOD BLESS YOU!!!













Minggu, 23 November 2014

Kosmoboy-ku

Yang aku tahu, kamu sangat menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan semesta. Bahkan, kamu sangat tahu, bahan bakar bintang itu adalah helium dan jika bintang sudah berusia tua—massanya memulai, berubah menjadi katai putih—akan meledak dengan ledakan supernova, lalu boom berubah menjadi blackhole. Padahal setahuku, blackhole itu lubang hitam yang jahat. Oh ternyata begitu. Kamu memang hebat, Re.

“Kamu tahu nggak asal mulanya ada air di bumi dari mana?” kamu bertanya suatu ketika, saat kita tengah duduk di balkon rumahmu menatapi langit pekat sedikit bintang—di malam kelulusanmu sebagai sarjana sains.

“Dari hujan kan? Siklus hidrologi.”

“Kalau siklus berarti airnya udah ada. Misalnya air laut yang menguap.”

Aku sadar kemudian melongo, benar juga yang kamu katakan. Lalu air laut dari mana?

“Terus apa dong?” aku bertanya lagi.

“Asteroid dan komet,” jawabmu penuh semangat.

“Kok bisa?”

“Karena bahan dasar asteroid dan komet itu adalah air es. Jadi waktu sampai ke bumi dia mencair jadilah air ada di bumi.”


Kamu tersenyum. Aku semakin jatuh cinta, wawasanmu seluas jagat raya.

Relativity

Kamu pernah bilang, “waktu itu relatif, bisa diperpanjang dan bisa juga diperpendek namun mustahil untuk diputar kembali. Meski begitu, cinta tetap mampu menembus dimensi yang tak terjamah.”

Kenapa waktu dikatakan relatif, sedangkan manusia di bumi menjalani waktu 24 jam perhari—absolut. Apalagi yang kamu bahas soal cinta. Seakan kamu menunjukkan kepedihanmu. Jika aku dan kamu terpisah oleh ruang dan waktu, cinta kita tetap tak berjarak. Ingat aku mencintaimu, begitu katamu. Responku, hanya tersenyum meremehkan. Perkataanmu aneh!

Tahun 2112, kamu pergi meninggalkan bumi bersama rekan kerjamu sesama astronot. Kamu menjadi bagian dari sebuah misi ‘kelangsungan hidup spesies’. Mencari planet yang tepat untuk dihuni manusia kelak.  Karena bumi semakin tua dan rapuh.


Hari, minggu, bulan, tahun, setengah abad, kamu tak kunjung datang. Aku tetap menunggumu dengan cinta yang utuh. Lalu perlahan, aku mulai menyadari perkataaanmu. Meski jarak dan waktu kita terpisah jauh, cinta di antara kita tetap terhubung. Detik itu aku tahu, betapa kamu menyayangiku, tidak ingin jauh dariku. Tapi aku terlalu tolol menghiraukan perpisahan yang ingin kamu akhiri dengan manis.

Selasa, 04 November 2014

Jalanku... Jalanmu... Jalan kita... adalah jalan kesuksesan

                PERTANYAAN, kenapa sih gue ini semangat banget, padahal tulisan gue sudah tujuh kali ditolak? Pertama karena gue tahu, tulisan gue ini payah dan hukumnya wajib gue benerin! Yang kedua gue yakin dan percaya, gue ini punya Tuhan yang adil. Dia melihat dan menilai semuaaa usaha gue. Jadi pasti nanti ada jalan menuju ke masa depan yang lebih cemerlang.

Nah! Termasuk ngefollow akun @diva_press lalu @kampusfiksi. Gue sering favorite tweet yang berhubungan dengan kepenulisan dan motivasi. Setiap senin—pas anak-anak murid gue lagi belajar agama—gue selalu nongkrong di kantor sembari nunggu #seninmenulis.

Oke, sampai pada suatu ketika. Gue iseng ngajakin si admin KF ketemuan. Gue kira dia itu sejenis sama gue, makanya dengan PD gue tweet begini: “Admin, kayaknya enak nik kopi darat di cafĂ© sekitar pegunungan sambil minum hot chocolate.” < Murni iseng. Tapi isengnya berhadiah, karena si admin menyanggupi.

Ahay, gue seneng! Padahal gue saat itu nggak ngerti arti kopdar, ternyata kopdar itu singkatan dari Kopi Darat (kalau kata Rofie, orang Jakarta tapi nggak tahu kopdar!! Haha… Ampun Dijeee). Kopdarnya di Food Court Ambassador. Dan pas ketemu si admin, JEGER!!! Gue kaget! Rasanya pengin balik badan, nggak jadi ketemu. Tapi gue merasa punya responsibility karena gue yang ngajak ketemu. Lagipula gue pikir dia itu lembut dan perhatian—meski nyeesss kalau kritik—karakter ***** banget kan? Ternyata berkumis! Owalah. Sebelumnya sempet bilang ke Rofie. Ih dia itu sombong ya. diajak ngobrol cuek-cuek padahal junior gue tuh di kampus!! *Hahaha*

Di sana ketemu pertama kali sama Kak Amad, Farid, dan Kak Wulan. Si Admin makan nasi padang seorang diri. Tapi gue ditraktir teh botol—haha… baik banget ya, padahal siapa yang butuh… dasar tak tahu diri kau Eka.

Dan kece badai, gue pikir dia itu cuek. Pas ketemu, 3 JAM NONSTOP share banyak hal. Gue banyak banget dapet ilmu dari sana. Khususnya penggunaan titik, koma di dalam dialog.

Hasil dari pertemuan ini, beliau kasih saran lebih baik bikin group WA. Jadilah kami di sana tuker nomor dan gue bikin group. Nggak tahu mau kasih nama apa, akhirnya pake nama WAK WAW. Tapi nggak bertahan lama, karena cuma gue dan Rofie yang ramein chat.

Dan tiba-tiba, gue di-invite JamaahTyphobia. Saat itu gue sedikit mengernyit, ini bangga banget ya padahal suka typho. Hahaha. Itulah ciri dari group sontoloyo ini, Typhobia.

Dunia berasa cerah, langit biru indah, sinar matahari bersahabat dan sebuah lorong penuh dengan berlian terbuka lebar. That`s my chance. Jamaah Typhobia membuka jalan menuju ke sana.

Ilmu kepenulisan. Kekurangan. Kelebihan. Tetek bengek, dari hal yang remeh temeh sampai UWAW semua gue dapet di sana. Gilaaaak! Ini bener-bener jalan dari Tuhan. Gue belajar banyaaaaaak banget dari sana. Secara sebelum masuk, gue cuma seorang Eka yang menulis dengan modal semangat (dikritik tulisan gue kayak berita, ceramah, dan Pak Edi bilang tulisannya belum runut). Tapi setelah masuk, mulai ngerti unsur-unsur penting dalam menulis. Tekniknya. Pokoknya semuanya, bermanfaat banget.

Ada 15 biji kepala di sana. Seperti inilah penilaian gue terhadap mereka.

Rofie. Dia paling pertama yang gue kenal. Ahem! Dia itu orang yang pertama kasih kritik. Dan dari sana kami mulai menjalin hubungan mesra. Dia itu care, jujur, dan asik. Kita sering share soal cowok-cowok visualisasi novel. Gue banyak belajar dari dia—kecil-kecil cabe jawa (lebih mantap dari cabe rawit). Punya gaya cerita yang khas—khususnya cerpen Merlion—dan temen paling enak diajak berbagi. Suaranya seksi. Tampilannya dewasa. Katanya mirip Raisa (Dia ngaku-ngaku sendiri).

Einca. Cewek yang ceria. Dia itu baik, bersedia koreksi naskah gue sampe gue bener-bener tahu di mana kurang naskahnya. Dia enak diajak share apa aja. Mulai dari penulisan, novel-novel, sampe laki juga hayok! Wkwkwk. Rame. Pemanis suasana. Tapi di balik itu semua…. (mewek…). Kami pernah telponan 1 jam. Dan ilmu dia, gue sedot semua. Trims Cantik.

Anggi. Ini anak pernah gue komen. Ya ampun sampe hal yang nggak penting di tweet ke KF (inget, Gi?) Dan ternyata dia addicted. Pantes. Hhaha. Gue suka diksinya. Bikin gue berpikir keras, ini beneran anak SMA? Bisa indah gitu diksinya. Puitis banget. Terus dia anaknya nggak enakan, padahal penting ngomong apa adanya. Dan dia paling asik tuh dibully, apalagi soal horror! Aduh renyah! Gurih-gurih nyoooy. Soalnya dia panikan.

Kak Reza. I have no ide to describe him. Karena dia misterius. Di medsos cool, aslinya rame. Pengalaman hidupnya yang penuh lika-liku—itu keren. Gue sering ngakak sendiri baca chatnya yang suka ngomong jorok. Misal soal daki, terus ketombe. Dan ngakunya ganteng. Tapi, ya gitu deh. Dia emang sesepuh dan tetua kami. Apapun yang dia ucapkan, kami manut. Trims buat kesediaannya bantu kami, meski sibuk. Jazakumullah.

Masfik. Yang bikin tertarik, doi ini kuliah di Yaman. Itu keren abis. Salut. Paling demen lihat dia lagi adu omongan sama Einca. Kayak Tom & Jerry, tapi di lain sisi kayak Romeo & Juliet. Excited melihat persilatan mereka. dan Masfik orangnya baik dan care.

Kak Amad. Awal ketemu main senyum-senyuman. Hahaha. Ini yang follow gue, tapi gue lupa follback, eh gue di unfollow—suka sensi Kak Amad. Doi ini keren, tulisannya semakin baik. Meski dia sibuk sama kertas-kertas laporan dan ibu kos yang kamfreto—ya nggak Kak Amad, jadi nggak mandi kan?—dia masih bisa meluangkan waktu menulis. Cool! Tulisannya makin bagus, kemajuan pesat. Tapi sayang kePD-annya kurang.

Mey. Kita follow waktu doi komen cerpenku juga kalau nggak salah. Dia kelihatannya jutek—dari foto—tapi sebenarnya humoris. Dan terkadang suka asik sendiri sama obrolannya. Tulisannya juga bagus. Diksinya kaya. Masih kebayang cowok perokok di benak gue tiap inget dia. Haha.

Juju. Pernah ketemu di Bookfair, dia tinggi banget! Dan selera humornya bagus. Gue senyam-senyum baca cerita komedi dia. Awalnya ragu, ini anak cewek apa cowok. Dari namanya syarbini, gue berspekulasi dia ini cewek. Dan ternyata dia cowok tulen. Kayaknya dia sempet bete waktu gue nebak dia itu cewek. Haha. Ampun yak.

Ucup. Gue kenal dia dari Rofie. Dia katanya ikutan kopdar Benz Bara. Gue tertarik minta dia kasih info supaya gue bisa ikutan kopdar. Ucup ini suka traveling backpacker. Dia juga semangat nulisnya dan usaha dia untuk mencapai tujuan patut diacungi jempol.

Farid. Uwooooow. Dia punya imajinasi yang oke, bacaannya berat, dan selalu semangat cari info buku-buku oke. Dan itu memengaruhi pola pikirnya, embrio, telur, ayam! Analogi yang kece badai untuk anak seusia dia. Tapi sayang, dia kalau nanggepin kritikan masih kurang terbuka. Padahal itu penting banget buat kemajuan dia.

Ilham. Ini anak keturunan kalkun kali ya. Entah apa alasannya hobi banget sama ilmu kalkulus. Padahal, lihat angkanya aja udah bikin mata gue mau keluar. Aaah! Gokil deh.
Dia orang Surabaya. Kok tahu padahal dia nggak pernah kasih tahu? soalnya gue pernah lihat dia ngomong tah. Jaman ngejak angel dulu, gue pernah temenan sama anak bonek. Jadi tahu, dia orang Surabaya. Pasti jawanya medok banget. Ilham ini kadang suka ngelucu, dan care juga anaknya.

Vee. Wahahahah kagum sama anak piyik ini. Baru lulus SMP. Otaknya udah kece banget, ide-ide ceritanya. Diksi-diksinya. Dan kemampuannya dalam berprogress itu keren! Jarang anak jaman sekarang mau repot-repot nulis. Mereka kebanyakan lebih seneng jadi cabe-cabean—naik motor bertiga.

Nebeh. Aahahaha.. gue kalau baca tweet dia nggak pernah nyambung. Entah itu yang dibahas korea-korean atau jepang-jepangan—gue nggak ngerti. Dia keren, kalau kritik jujur banget. Membangun dan bikin gue mikir, apa nih kiranya strategi gue buat perbaikan. Biasanya orang yang bisa kritik nulisnya kece. Nebeh semangat!


Pokoknya terima kasih banget buat kalian yang berbagi ilmu ke gue. Dan yang paling penting kita harus semangat. Punya hobi sama, kesuksesan juga harus sama. Mulai membuka diri untuk menerima kritik. Love you, Guys. Fi Amin Allah dan Jazakumullah Khairon Katsiron. GBU :’)

Sabtu, 06 September 2014

Untitled 2

Aku berdiri lemah di hadapan sebuah gedung. Gedung putih dengan cat mengelupas itu – adalah tempat yang kutinggali selama beberapa bulan – sudah hancur porak poranda. Besi-besi mencuat ke luar, ke atas, dan ke bawah,  rusak berantakan. Dinding yang bolong memperlihatkan isi ruangan yang sama bobroknya, seperti bangunan yang tidak pernah selesai dibangun.

Teriakan histeris menggema di sekelilingku membuat kakiku lemas. Tanganku gemetaran. Kepalaku berdenyut nyeri. Ingin rasanya aku menjedotkannya ke tembok, kemudian terbangun dalam keadaan yang aman dan gedung yang utuh.

Orang-orang sibuk membawa tandu kosong memasuki sebuah gedung, dan ke luar tergesa-gesa menandu tubuh luka berlumuran darah dan debu. Tempat ini tidak berbentuk. Tempat ini penuh debu serpihan bangunan yang terkena bom. Dan anakku ada di dalam sana.

“Karim,” hatiku lirih memanggil namanya. Meski rasanya berat seperti diikat rantai dan batu besi. Kakiku masih terus melangkah, menginjak batuan besar yang berserakan di tanah berdebu. Puing-puing berserakan menyulitkan langkahku.

“Dokter! Kau harus pergi! Mereka sedang menuju ke sini!”

Kudengar sayup Hamid memanggil-manggil namaku di kejauhan. Aku bergeming dan terus melangkah memasuki gedung seraya mengingat-ingat di mana letak  kamarku dalam keadaan gedung yang hancur seperti ini. Sebab terakhir aku meninggalkan Karim, ia tengah tertidur pulas dengan wajah imut berbingkai rambut keriting yang menggemaskan.

Kakiku berteriak pegal. Hatiku berdenyut ngilu. Rasa takut dan khawatir merebakkan airmata di pipiku. Adrenalin melemahkan gerakanku. Mempercepat detak jantungku. Keringat dingin membasahi baju hijau medis yang kukenakan. Tubuhku bergetar dan hampir limbung. Aku takut kehilangan Karim.

Pikiranku kosong. Aku berdiri di tengah gedung berdinding bolong. Harum kematian mencekamkan suasana. Pupil mataku melebar. Pandanganku menyapu sekeliling. Hanya ada hamparan batu yang pecah karena bom. Tapi ini tidak menyusutkan keinginanku tuntuk menemukan Karim dalam keadaan … hidup! Langkah kakiku masih kokoh meski getarannya semakin keras. Kukepal tanganku sekuatnya hingga buku jariku menusuk telapak tangan.

Dalam keadaan kalut, tiba-tiba pikiranku bermain deras tanpa toleransi menuju memori ketika Karim terkubur di bawah reruntuhan debu dan batu. Dan ketika terbangun dari memori itu, lima langkah di hadapanku, aku menemukan apa yang ingin kutemukan.

Karim.

Anakku tertindih batu besar, sekujur tubuh mungilnya tak bisa kulihat hanya kepalanya yang terjuntai lemah. Di bawah kepalanya ada bongkahan batu besar dan batu kecil di samping kepalanya, menyentuh pelipis kirinya.

Sedetik kemudian aku berlari menghampirinya dalam kesunyian. Tidak ada histeris. Aku masih berharap keajaiban kembali menaungi Karim, My son. Yeah, God you should give him miracle.

“Karim.” Kupanggil namanya sehalus mungkin agar ia tidak ketakutan ketika terbangun nanti. Pelan-pelan kusingkirkan bebatuan itu tanpa sekali pun melepaskan tatapan mataku pada wajah imutnya. Mata Karim terpejam. Bulu matanya yang lentik membuatku merasakan rindu dan ingin segera memeluknya. Namun aku tidak kuat, aku terlalu gemetaran untuk membebaskan Karim dari batu itu.

“Karim,” panggilku. Suaraku lebih terdengar parau dan lirih. “Bangun, Nak,” kataku lagi seraya mengelus rambut keritingnya. Ketika tanganku menyentuh tempurung kepalanya, rasanya ada cairan kental menyesap ke jemariku. Kuangkat tanganku, merah darah kental menutupi telapak tanganku. Bau anyir membuat napasku sesak.

“Tuhan, Kau benar-benar harus memberikan keajaiban kedua padanya!” ucapku frustrasi sambil menatap wajah Karim yang semakin memutih. “Kau harus, Tuhan!” teriakanku meledakkan kesunyian. Tangisanku pecah dengan sekejap. Rintihan dan isakan bagai suara guntur yang membelah langit.

“Bangun! Bangun, Nak! Jangan terlalu lama terlelap. Buka matamu! Umi ingin melihat bola matamu yang cokelat. Bangun dan tertawalah. Katakan Kau baik-baik saja, Karim.”

Kekalutan memberikan kekuatan bagiku. Sejenak batu yang menutupi tubuh Karim berhasil kulempar menjauh. Kini Karim berada di pangkuanku, masih dengan mata tertutup, wajah membiru, kepala yang bersimpah darah membasahi wajahnya ketika kupeluk tubuh lemahnya.

“KARIM!” aku berteriak sekuat tenaga, melepaskan rasa pedih kehilangan. Bayi mungilku telah pergi direnggut kebiadaban pimpinan Israel. Bom melenyapkan senyum dan tawa canda Karim. “You asshole Netanyahu! You are a murderer! You are a monster!” pekikku penuh amarah.

Lalu kupandangi kembali wajah Karim. Masih terdiam. Air wajahnya tenang, bibir penuh proporsional itu seperti mengulum senyum, hidung kecilnya kini tak dapat menghirup udara lagi. Anakku mati! Karim sudah mati. “You take my child from my arm!”

“Don`t move! Put your hands up.” suara berat pria menyela tangisan pedihku.

Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Berdiri seorang tentara gagah dengan menodongkan senapan panjang ke arahku. Kulihat badge di seragam tentaranya yang berwarna hijau buluk, loreng cokelat redup. Seragam angkatan darat Amerika. Dan memang ada bendera Amerika di lengan tangannya. Ia menggunakan topi dan kacamata hitam. Rompi anti peluru melindungi dadanya.

Meskipun senapan panjang itu mengarah kepadaku, aku tidak takut menatapnya penuh kebencian dan amarah. Jika saja aku punya senjata, langsung kutarik pelatuknya dan kutembakkan ke kepalanya berkali-kali sampai pecah seperti serpihan batu ini.

“Is he your boy?” dia bertanya dalam kewaspadaan. Memang ada sedikit simpati dari matanya saat menatap Karim. But, he didn`t really care!

“Dan kau membunuhnya! Katakan pada pemimpinmu untuk berani memimpin langsung pasukanmu, bukan bersembunyi di balik Iron Dom! Bedebah!”

“Hei. Jaga mulutmu, cantik.” Dia tersenyum nakal membuatku semakin tajam menatapnya. “Tidakkah kau tertarik ikut denganku untuk …” katanya sambil menurunkan senapannya, ia lebih releks setelah mendengarku bersuara. “Yeah, bersenang-senang di tempat tidur. Kau tahu, pria selalu butuh wanita meski sedang perang. Aku kurang tertarik dengan wanita Israel, dan sepertinya kau …” dia meringis kesakitan karena sepatu kats-ku berhasil mengenai tulang keringnya. “What the …” ujarnya sambil mendorong senapannya dengan keras mengenai pelipisku.

Pening. Bau anyir darah menyeruak. Langsung kuusap darah yang mengalir mengenai alis mataku dengan tangan. Karim masih aman dalam pelukanku. Tentara itu bersiap kembali melancarkan serangan dengan senapan, berniat memukulku lagi.

“Stop!” tapi sebuah suara menghentikannya. Tentara Amerika Berpikiran Kotor itu langsung berdiri tegak dan mengangkat tangannya. Ia melakukan gerakan hormat khas militer pada pemilik suara itu. “Get out! She`s mine.”

“Yes, Sir!” ujarnya tegas dan lantang. Lalu ia berlari meninggalkan kami.

Aku dan pria itu saling bertukar pandang. Ia berjalan menghampiriku penuh wibawa dan kharisma. Pakaiannya sama seperti si Tentara Amerika Berpikiran Kotor, namun tanpa kacamata dan topi. Titik-titik rambut tipis berwarna pirang kecokelatan menutupi dagu dan pipinya. Rambut cokelatnya sempurna dengan rahang persegi yang terlihat kokoh. Hidungnya jelas mancung tinggi. Ada lekukan di tengah dagu lancipnya. Ketika ia mendekat dan berjongkok di hadapanku, aku bisa melihat matanya birunya yang berkilauan. Pria tampan ini pembunuh.

“Stay away from me!” pekikku.

“Just calm down, ok? I don`t wanna hurt you.”

“Are you his leader? Are you a murderer? Go to hell!”

“Don`t talking loud to me.” Dia menatap lekat mataku, mata birunya memancarkan ketenangan. Ia tidak mengancam seperti anak buahnya hingga aku tidak setegang tadi. Aku melunak dan membuang wajah lalu menatap Karim. “I`m so sorry for your son. I didn`t mean to …”

“Shut up!” pekikku, kembali merasakan kepedihan. “Kau telah membunuhnya. Karim-ku bayi yang menggemaskan. Aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri.” Kuucapkan curahan hatiku padanya, pada pria tampan yang sejak lama menjadi musuh Gaza. Ketenangannyalah yang membuatku merasa ingin direngkuh dalam pelukan pria itu dan menangis sedu sampai tertidur. Aku lelah. Aku kehilangan.

“Aku tahu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memohon maaf padamu, dan … Karim, rest in peace sweet heart. God bless you.”

Aku memperhatikan wajahnya saat mengucapkan kalimat bela sungkawa pada Karim. Wajahnya menunjukkan keseriusan, bukan ejekan. Matanya mengisyaratkan kepedihan, bukan kesenangan.

Tangan besar pria itu mengelus kepala Karim, sama sepertiku telapaknya merah dengan darah. Ia meringis. “Inilah yang membuatku tidak pernah ingin berada dalam pertempuran.”

Kalimatnya memperjelas sesuatu dan jika aku dalam keadaan normal, aku pasti menanyakan maksudnya. Tapi tubuhku terlalu lemah, aku hanya bisa kembali menatap wajah Karim dan menyebutkan namanya dengan lembut dan lirih. Lalu tidak menyadari apa-apa lagi. Damai. Tenang. Aku pingsan.


To be continue …